Yakin, ini ketemuan GKI?” Canda Steven ditimpali rekan-rekannya yang lain. Pemuda GKI Pakis Raya itu mengomentari acara Meet and Greet SELISIP yang bergaya santai namun memiliki bahasan mendalam. Ruang yang dipakai pun di tempat co-working space. Suasana yang terbilang variatif jika dibandingkan kebiasaan pertemuan di GKI selama ini.

Sabtu pagi (27/4), belasan kaum muda dari sejumlah GKI di Jakarta hadir dalam kegiatan Meet and Greet yang bertema Z-Cross Media. Acara yang digelar SELISIP bersama Komisi Pemuda GKI Klasis Jakarta Timur itu diselenggarakan di ESTUBIZI Business Centre and Co-Working Space, Kebayoran Baru, Jakarta.

Kaum muda GKI ini mendiskusikan ide dan strategi kreatif menyampaikan ide di kalangan milenial lewat media sosial. Kristo Immanuel, vlogger dan selebgram yang terkenal sebagai peniru suara kreatif, menjadi pemantik ide dalam diskusi di sesi pertama. Lantas di sesi berikutnya, “What Next?,” para pemuda ini mengevaluasi sejauh mana mereka menggunakan media sosial untuk memberi dampak. Entah itu lewat akun pribadi maupun dalam akun pelayanan kaum muda GKI.

Harus diakui selama ini kita memang belum begitu maksimal dalam mengelola media sosial. Karena mungkin belum terlalu melihat urgensi serta berbagai manfaat yang diperoleh jika kita memaksimalkannya. Padahal ini adalah ladang pelayanan juga,” ujar Marlein peserta dari GKI Tubagus Angke.

Meet and Greet kali ini memang merupakan bagian dari program yang dikerjakan SELISIP, sebagai media online GKI SW Jawa Barat, untuk memetakan celah-celah kebutuhan dalam pelayanan Kristiani di ranah media sosial. Juga menjadi pemantik agar sekian banyak channel media digital yang selama ini dikelola oleh warga muda GKI, bisa bersinergi dan efektif dalam menyampaikan pesan-pesan berkualitas.

BACA JUGA  Natal COY yang Berbeda

Dalam diskusi ini jelas terlihat sejumlah celah kebutuhan di media sosial yang selama ini belum terisi. Umumnya media sosial yang dikelola gereja hanya berisi informasi searah yang tidak jauh berbeda dengan warta. Atau jika membuat konten interaktif umunya belum bisa nyambung dengan gaya yang ingin disasar. Belum lagi channel yang umumnya digunakan masih sangat konvensional. Vlogging, konten audio-visual atau podcast, masih sangat sedikit dipakai sebagai sarana melayani. **arms