Thomas van den End saat mengomentari keberadaan kalangan zending, para misionaris Eropa di Nusantara, menyoroti hal khusus, terkait absennya terobosan progresif di bidang politik. Berbeda dengan bisang sosial, terutama pendidikan, kesehatan dan ekonomi, dimana lembaga zending saat proaktif dalam mendorong perubahan.

Lain halnya kalau di bidang politik…,” komentar ven den End, “Sebab para zendeling kebanyakan tidak bergerak di bidang politis dan tidak suka kalau anak-anak buah mereka, yaitu orang-orang Kristen Indonesia, bergerak di bidang tersebut. Dalam hal ini dilihat pengaruh pietisme, yang tidak suka berpolitik. Di samping itu perlu diketahui bahwa para zendeling diawasi secara ketat oleh pemerintah kolonial. Sedikit saja menyimpang dari haluan pemerintah, segera diancam dan diusir.

Jelas bahwa sikap apolitis ini lebih dikarenakan oleh kepentingan kolonial Belanda di Nusantara. Utusan zending abad ke-19 takut untuk menyuarakan cita-cita kebenaran dan keadilan yang terkandung dalam Alkitab.

Maka tentu saja perlawanan-perlawanan gencar yang dilakukan oleh organisasi HKB terhadap pemerintah Hindia Belanda, mengalami tentangan dari RMG, lembaga zending yang menaungi gereja-gereja di Tanah Batak. Salah seorang misionaris pernah menulis dengan sinis, “HKB yang sekarang adalah karikatur partai Kristen.

RMG bahkan menyorot fakta M.H Manullang, pendiri HKB merupakan anggota Insulinde, sebuah organisasi revolusioner dan sosialis. Buat kalangan misi yang terbiasa dengan teologi pietisme, hal tersebut menjadi berita yang menggemparkan, sebab dianggap tidak mungkin seorang Kristen saleh mengikuti kelompok revolusioner.

Namun demikian, HKB nampaknya telah beranjak dari kekakuan dogmatis seperti ini. Manullang membela hubungannya dengan Insulinde, bahwa Insulinde tidak bertentangan dengan kekristenan dan pemerintah.

Melampaui sekedar kerja pelayanan di lingkup gereja, Manullang dan rekan-rekan sejamannya juga telah melakukan gerakan grass root yang bersifat go public melalui terbentuknya surat kabar. Surat kabar yang pertama mereka terbitkan ada di Tanah Batak bagian Utara dengan nama Binsar Sinondang Batak (secara harafiah berarti: Terbit sinar terang Batak, biasa disingkat BSB].

BACA JUGA  GKI Cimahi Berkembang dalam Transisi

BSB mengusung misi pergerakan sosial-politik. Muatan yang sarat kritikan terhadap pemerintah Kolonia Belanda akhirnya harus membuat BSB mengalami mati suri. Penerbitannya dihalang-halangi baik oleh Belanda maupun oleh Zending. Surat kabar ini hanya berumur setengah tahun.

Namun tidak berhenti sampai disitu, Manullang sebagai pejuang pers dan kemerdekaan, pada November 1919, menerbitkan surat kabar dalam Soeara Batak di Tarutung. Salah satu tajuk surat kabarnya sangat terkenal saat menuliskan motto: “Oela tanom, asa unang dibuat Oelando (Olahlah tanahmu supaya tidak diambil Belanda).”

Apa yang dikerjakan HKB ini menjadi bukti bahwa teologi sosial berkelindan dengan teologi politik. Tidak dapat disangkal bahwa karakter kristiani yang sesungguhnya dari HKB (dalam hal ini misi) pantas dipuji. Model pidato Manullang untuk membangkitkan semangat pendengarnya ada dalam bentuk khotbah pendeta Batak di mimbar. Bahasa Injil, nyanyian rohani, doa, pemakaian gedung gereja tidak diartikan sebagai penampilan kemunafikan, melainkan pencerminan keinginan dan perasaan yang sungguh-sungguh dari penduduk dan juga dari Manullang.

Upaya HKB untuk mencapai persatuan, persamaan, dan martabat juga dapat dikatakan pengaruh dari misi. Misi jugalah yang membentuk organisasi HKB sebagai kelompok sosial-politik yang membawa HKB kemana-mana. Lebih jauh, hubungan Manullang dan HKB dengan kelompok Muslim serta organisasi-organisasi “revolusioner” Nusantara bukanlah merupakan penyangkalan terhadap kekristenan.

Dapat disimpulkan bahwa HKB merupakan pelayanan sosial yang advokatif (transformasi-struktural) dalam masyarakat Batak sebelum kemerdekaan Indonesia. Sebuah kemajuan yang luar biasa di tanah Batak, kesadaran pada kepedulian sosial membentuk pemikiran-pemikiran politis yang adil yang didasarkan atas rasa cinta pada tanah dan bangsanya.

Cara hidup masyarakat Batak Kristen yang demikian telah melampaui cara berpikir yang diajarkan oleh RMG sebab HKB mampu mengkritik kebijakan Kolonial Hindia Belanda termasuk juga kegiatan yang dilakukan badan zending RMG yang tidak pro pada kehidupan.

BACA JUGA  GKI Turut Mendeklarasikan Pemilu Damai

Disarikan dari: Kekristenan di Tanah Batak: Tinjauan Sosio-Politis di Tanah Batak dan Pergerakan Kemerdekaan Indonesia (Pdt. Jetti Lisantri Samosir)

Ilustrasi: horas.id