Ada banyak konten rohani di medsos, termasuk yang Kristen, mencoba untuk gaul dan menjangkau kaum muda. Tapi jadinya malah cringe. Yang seperti itu sulit viral, soalnya mereka gak nyadar kalau itu garing…” kritik Kristo Immanuel dalam sesi talkshow Meet and Greet SELISIP akhir April (27/4) lalu.

Apa yang disampaikan oleh vlogger dan selebgram yang terkenal sebagai peniru suara kreatif itu memang kerap terjadi. Seringkali konten-konten Kristiani, entah itu video, sketch, meme atau tulisan dikemas dengan seadanya atau hanya mengulang hal klise.

Bisa jadi karena cakupan pemirsanya terlalu luas. Atau pun jika yang disasar spesifik, misalnya anak muda, tetap dikerjakan oleh mereka yang usianya berbeda. Itu langsung terlihat jelas kok, karena konten yang viral itu umumnya jujur dan orisinal,” lanjut Kristo.

Praktisi media sosial yang masih menyandang status mahasiswa itu, juga mengingatkan akan pentingnya konsistensi serta totalitas dalam memproduksi konten. Mengingat viralnya sebuah konten memang perlu momen-momen tertentu yang akan lebih mudah digapai, jika kita sudah konsisten berkarya.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh sejumlah peserta yang berdiskusi dengan Kristo. Andre, jemaat GKI Gading Indah mencontohkan pengalamannya menonton salah satu channel Kristiani yang mencoba mengemas video untuk anak muda. “Saya nggak tahan nonton sampai selesai saking garingnya,” komtentarnya sembari tertawa. Padahal untuk sejumlah video yang dinilainya kreatif, Andre mengaku bisa dua atau tiga kali menonton ulang.

Semakin disadari, umumnya media sosial yang dikelola gereja saat ini hanya berisi informasi searah yang tidak jauh berbeda dengan warta. Cara berpikirnya masih terpaku model komunikasi massa klasik dimana yang diandalkan adalah boardcasting, layaknya sebuah propaganda. Padahal model yang lebih sesuai adalah narrowcasting, yang lebih spesifik menyasar demografi dan bidang minat tertentu, lalu terlihat seperti alami dalam proses viralnya.

BACA JUGA  Yudi Latief: Keseimbangan Pancasila Demi Kemajuan Bangsa

Pekerjaan rumah yang lain adalah terkait channel yang digunakan masih sangat konvensional. Vlogging, konten audio-visual atau podcast, masih sangat sedikit dipakai sebagai sarana melayani. Hal serupa juga dirasakan terkait apa yang menjadi konten. Umumnya konten Kristiani di media sosial masih didominasi oleh pemberitaan kegiatan, lagu, serta khotbah dengan sasaran spiritualitas individual. Sketch yang jadi potret kekristenan serta pandangan yang mumpuni terkait banyak isu, masih sangat sedikit yang menggarap. **arms

Ilustrasi: IdeamachineStudio