Minggu sore kemarin saya naik kereta dari Bojonggede ke Depok. Saya sudah terbiasa naik Kereta Rel Listrik (KRL). Dalam satu minggu bisa 3-4 kali. Tapi, kali ini saya bersama istri dan dua anak saya yang berumur satu dan 4 tahun.

Kami berjalan agak cepat menuju stasiun karena sore itu gerimis. Kedua anak saya sedang tidur dalam gendongan saya dan istri. Saya menggendong anak pertama, dan juga menggendong satu tas dipunggung, mungkin beratnya sekitar 25 kg.

Awalnya saya merasa cukup kuat. Namun, saya tidak sekuat yang saya kira. Punggung terasa sakit. Saya merasa kesulitan ketika hendak menempelkan kartu e-money ke mesin tap KRL. Akhirnya saya dibantu istri untuk masuk ke dalam peron stasiun.

Saat saya masuk, kereta telah tersedia. Saat itu juga saya masuk ke kereta. Seperti biasa, kita jarang sekali bisa mendapatkan kursi di KRL. Meskipun sore itu tidak terlalu ramai. Namun semua kursi penuh.

Kami akhirnya berjalan menyusuri gerbong untuk mencari kursi kosong. Punggung saya sakit. Saya berjalan sambil memegang apa pun yang bisa saya raih untuk meringankan beban punggung.

Melewati satu gerbong, kami belum mendapat tempat duduk dan belum ada orang yang bersedia membantu. Saya melihat orang-orang diam saja. Di saat seperti itu, saya hanya berdoa agar ada orang yang mau membantu.

Tiba-tiba di gerbong selanjutnya, istri saya berhenti sejenak. “Bu duduk sini bu,” seorang kakek memanggil istri saya. Dia berdiri tergopoh-gopoh menggunakan tongkat dan menyediakan kursi untuk istri saya. Istri saya menolak tawaran itu karena merasa kakek tersebut lebih membutuhkan. Beruntung istri saya mendapatkan kursi lain.

“Bapak, duduk sini saja,” dengan sigap, kakek itu kemudian meminta saya duduk di kursinya. Saya yang sakit punggung memang membutuhkan sekali tempat duduk. Namun, bukankah kakek itu juga membutuhkan? Untuk berdiri saja harus pakai tongkat. Ayo pak, duduk sini,” kakek itu memaksa. Yasudah, akhirnya saya duduk. Akhirnya punggung saya bisa istirahat. Sungguh nikmat sekali.

BACA JUGA  Kenapa Takut Menggeluti Sosial Politik?

“Sungguh baik sekali kakek ini. Dia merelakan susah payah berdiri menggunakan tongkat. Untuk saya yang sedang menggendong anak tertidur,” hati saya berdesir. Hanya ucapan terima kasih yang saya sampaikan. Padahal dalam gerbong itu masih banyak orang yang lebih kuat untuk berdiri.

Saya melihat beberapa anak muda duduk santai saja. Bahkan ada yang pura-pura tidur. Namun kenapa justru kakek bertongkat ini yang tergerak untuk membantu kami.

Tidak lama berselang, saya dipanggil istri untuk duduk di sampingnya. Seorang pemuda berbaik hati memberikan kursinya. “Akhirnya ada anak muda yang berbaik hati ke kami, yang membutuhkan kursi,” pikir saya.

Akhirnya saya persilakan kakek bertongkat itu untuk duduk kembali lalu saya duduk disamping istri.

Akhirnya saya bisa duduk di samping istri. Namun selama perjalanan, perhatian saya tidak bisa lepas dari kakek bertongkat itu. Ingin rasanya berterima kasih dan mencium tangannya yang sudah keriput itu. Memakai kaos krem berkerah, celana digulung selutut, dan sandal karet hitam, kakek ini terlihat sangat biasa. Di sampingnya tergeletak tongkat stainless yang dipakai untuk membantu berdiri dan berjalan. Kakek bertongkat berhati malaikat.

Dilihat dari wajah dan warna kulitnya, kakek ini keturunan Tionghoa. Matanya sipit dan berkulit putih. Namun, kemudian saya kaget. Dia tiba-tiba mengeluarkan sebuah buku putih dan membaca. Dia memanfaatkan betul waktu di dalam kereta untuk membaca.

Dalam gerbong KRL itu ada puluhan bahkan ratusan orang dan hanya kakek bertongkat itu yang membaca.  Dari jarak sekitar 10 meter, saya mencoba menebak judul apa yang tertera dalam buku putih yang mulai lusuh itu. Mata saya hanya dapat menangkap tulisan judul besarnya saja yaitu “Al-Azhar”.

BACA JUGA  [Merdeka dari Kebencian]: Ayo Porak Porandakan Prasangka!

“Kakek Tionghoa yang bertongkat itu ternyata membaca sejarah Al-Azhar di Mesir?” Hati saya membatin penuh penasaran, kekaguman, dan sore itu hati saya benar-benar basah. Seperti Kota Depok yang diguyur hujan sore itu.

Senin, 6 Mei 2019
Penulis: Muhammad Mukhlisin (Program Manager Yayasan Cahaya Guru)
Sumber Foto: bumntrack.com