Tanggal 20 Mei lalu, kita memperingati suatu hari yang penting dan bersejarah dalam perjalan hidup bangsa kita, yakni hari Kebangkitan Nasional. Mengapa disebut sebagai hari Kebangkitan Nasional? Sebab, rakyat Indonesia yang sebelumnya masih terkotak dalam identitasnya masing-masing, kini mulai membangun kesadaran sebagai satu saudara sebangsa dan setanah air.

Kesadaran sebagai satu bangsa dan satu tanah air mulai muncul ketika rakyat merasa senasib dan sepenanggungan di bawah penjajahan bangsa lain. Dari sini, mereka mulai menggalang persatuan, yang tidak lagi dibatasi oleh identitas kesukuan atau keagamaan secara sempit, melainkan sebagai sesama anak bangsa yang bersama berjuang bagi kemerdekaan bangsanya.

Yeremia dalam suratnya kepada bangsa Israel yang berada di pembuangan, berpesan untuk tidak hanya meratapi nasib mereka di Babel, melainkan mengusahakan kesejahteraan kota itu, serta berdoa baginya. Memang, pembuangan ke Babel harus mereka alami sebagai proses didikan Tuhan kepada umat-Nya untuk belajar tentang arti kerendahan hati, ketaatan dan kesetiaan kepada-Nya. Lebih dari itu, sekalipun mereka ada di pembuangan, Tuhan ingin agar mereka bangkit dari situasi meratapi diri, lalu berbuat sesuatu bagi kota dimana mereka Tuhan buang.

Firman Tuhan katakan: “Usahakan kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan. Sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

Konsekuensi dari pelanggaran mereka memang harus ditanggung. Tetapi, yang menarik adalah di dalam penghukuman itu, Tuhan masih menaruh kasih-setia-Nya bagi umat-Nya. Ia tidak ingin mereka putus asa, karena kepedihan dan ratapan mereka sebagai bangsa buangan.

Banyak diantara kita telah lahir di bumi Pertiwi sejak mulanya. Kita adalah warga negara Indonesia. Maka, kita mampu berbuat lebih dari orang-orang Israel di masa pembuangan. Kalau mereka saja, sebagai bangsa buangan diminta untuk berbuat sesuatu yang mendatangkan kesejahteraan kota dimana Tuhan membuang mereka, maka kita tentu lebih dari mereka. Kita patut membangun kesejahteraan negara kita sendiri, tanah tumpah darah dan tanah air kita.

BACA JUGA  Persembahan Syukur di Pentakosta

Untuk dapat membangun kesejahteraan bangsa ini, kita tidak dapat berjalan sendiri, kita perlu bergandengan tangan dan bekerjasama dengan berbagai kalangan lintas etnis, suku, agama, politik, sosial, ekonomi, gender dan usia. Bukan sebagai orang asing ataupun pendantang, melainkan sebagai warga di dalamnya, yakni sebagai sesama orang Indonesia.

Idetintas etnis, kesukuan dan keagamaan, memang tetap ada dan tidak akan pernah dapat hilang. Namun kita mau meletakkan itu semua di bawah satu identitas, yang menyatukan kita, yakni sebagai sesama orang Indonesia yang mencintai negeri ini dan berupaya menghadirkan kedamaian dan keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Selamat hari kebangkitan nasional! Selamat berkarya bagi negeri ini!

Penulis: Pdt. Markus Hadinata