Menghabiskan waktu kuliner bersama rekan atau kerabat memang memberi keasyikan tersendiri. Sudah barang tentu, tiap orang punya tempat kuliner favoritnya.

Hal itu juga berlaku buat rekan segereja dan tempat-tempat makan favorit yang ada di sekitar gedung gereja. Tak jarang, keberadaan tempat makan di dekat gereja juga menjadi kenangan tersendiri dalam kehidupan dan interaksi antar anggota jemaat.

Sebagai contoh jika kita meninjau lokasi kuliner khas di sekitar Jl. Perniagaan. Di wilayah ini setidaknya ada dua GKI yang jaraknya cukup dekat (GKI Perniagaan dan GKI Pinangsia).

Wilayah ini memang dikenal sebagai salah satu pusat kuliner klasik maupun modern di Jakarta. Ada kuliner semisal Bakso Adam yang begitu laris atau Kopi Es Ta Kie, yang tak termakan zaman, ada pula Rujak Shanghai Encim yang juga klasik.

Bakso Adam, diambil dari nama pengusahanya Bapak Adam dan Ibu Adam, hanya berjarak 300 meter dari GKI Perniagaan. Dijual dengan hanya menggunakan gerobak bertempat di pasar Kawasan Glodok, Jakarta Barat.

Buka setiap hari mulai pukul 16.00 dan tak pernah sepi bahkan biasanya antreannya mengular. Ciri-ciri Bakso Adam adalah bakso halus dan bakso halus dengan kuah kaldu gurih yang disajikan dengan mie yang tidak biasa untuk bakso yaitu kwetiau.

Sementara itu Kopi Es Ta Kie merupakan salah satu kedai kopi tertua di Jakarta yang sudah ada sejak 1927, di Gang Gloria. Gang yang namanya terdengar khas Kristiani itu memang terbilang sempit. Namun sudah menjadi landmark untuk pecinta kuliner terutama kuliner klasik peranakan Tionghoa. Jaraknya hanya sekitar 500 meter dari GKI Perniagaan dan 700 meter dari GKI Pinangsia.

Dikelola oleh pemiliknya, Latif, kopi susu khas kedai ini sederhana, hanya berupa kopi hitam yang diseduh dan dicampur dengan susu kental manis. Selain kopi, Tak Kie juga menyediakan beberapa kudapan dan makanan berat. Mulai pangsit kuah, pangsit goreng, nasi campur, bakso, hingga bakcang.

BACA JUGA  Tokoh Tertua di Alkitab

Rujak Shanghai Encim juga bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari GKI Perniagaan. Didirikan oleh perempuan peranakan Tionghoa, yang akrab Cik Encim pada 1950-an. Saat ini kedai dikelola oleh putrinya, Cia Hung.

Cirinya yang khas dari Rujak Sanghai ini terdiri dari campuran kangkung, juhi (cumi besar), ubur-ubur, lobak dan mentimun. Semuanya sudah direbus agar rasanya masih segar lalu dipotong dan diletakkan ke dalam piring.

Tiga tempat ini tentu sering dijajal jemaat GKI Perniagaan atau GKI Pinangsia. Bagaimana kuliner lain di gereja Anda? **arms
Foto: Indonesian Street Food