Dapat diduga, gereja dan kita sebagai orang Kristen tidak menaruh bobot yang sama pada semua hari raya gerejawi. Kamis kemarin (30/5), kita merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus ke sorga. Tidak ada panitia khusus seperti panitia Natal. Kalau pun ada, biasanya kepanitiaan digabung ke dalam panitia Paskah.

Tapi, benarkah Kenaikan Yesus ke sorga kurang berbobot dibanding Natal atau Paskah? Sebenarnya, semua hari raya gerejawi sama pentingnya. Hari Kenaikan Yesus menjadi penting oleh karena itulah momen terakhir sebelum Yesus kembali pada kemuliaan, tempat Dia berada sebelumnya.

Alasan yang lain adalah, saat Ia kembali ke sorga – seolah seperti komamdan yang telah paripurna menunaikan tugasnya – Ia menyerahkan tongkat estapet kepada para pengikut-Nya. Yesus Kristus memuliakan, memberi kepercayaan kepada para murid-Nya agar dapat meneruskan apa yang sudah dikerjakan-Nya, yakni mewujudnyatakan Kerajaan Allah tidak hanya di Yerusalem, melainkan Yudea, Samaria bahkan sampai ke ujung-ujung bumi!

Pusat berita yang dibawa Yesus adalah Kerajaan Allah. Bagaimana pemahaman Yesus tentang Kerajaan itu? William Barclay, mengajak kita melihat dari “Doa Bapa Kami”. Dalam doa ini ada dua petisi yang berdampingan: “Datanglah Kerajaan-Mu; Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

Menurut karakteristik Ibrani, sama seperti syair-syair dalam Mazmur, bila ada dua syair yang mengambil bentuk paralel, maka yang kedua akan menguatkan syair yang pertama. Demikian juga dengan dua petisi dalam Doa Bapa Kami ini. Petisi atau kalimat kedua merupakan arti dari kalimat pertama. Dengan demikian kita dapat memahami bahwa yang dimaksudkan Yesus dengan Kerajaan Allah ialah suatu masyarakat di dunia ini, di mana kehendak Allah akan terjadi secara sempurna, seperti di sorga.

BACA JUGA  Mengasihi Tanpa Batas

Nyata sekali bahwa Kerajaan itu bukan didasari oleh kekuasaan atau kekuatan militer, melainkan oleh kasih. Jalan satu-satunya mewujudkan itu telah Yesus mulai dengan hidup, pelayanan, bahkan pengorbanan nyawa-Nya sendiri di kayu salib. Kini, tugas-Nya telah selesai dan Ia mempercayakan kelanjutan-Nya kepada semua orang yang percaya dan mengikuti-Nya.

Sama seperti dulu Yesus menjalaninya. Tidak mudah! Maka untuk mencapai hal itu manusia membutuhkan pertolongan Roh Kudus. Yesus meminta mereka untuk tetap tinggal di Yerusalem sampai mereka semua dilengkapi dengan kekuasan dari tempat tinggi (Lukas 24:49). Barulah setelah mereka menerima kuasa Roh Kudus itu mereka akan dimampukan menjalani dan melanjutkan apa yang telah dirintis Yesus, menjadi saksinya.
Apa sebenarnya yang diinginkan Kristus, dengan mengatakan ‘menjadi saksi-Nya’?

Saksi adalah seseorang yang mengatakan, “Saya tahu ini adalah benar.” Di pengadilan seseorang tidak boleh memberikan bukti atau kesaksian hanya dengan suatu cerita saja. Bukti kesaksian haruslah merupakan pengalaman pribadinya. Lebih lanjut, dalam konteks Kristiani seorang saksi yang benar, juga bersaksi tidak hanya melalui perkataannya saja, melainkan dengan perbuatannya.

Lewat mengajak dan memperlengkapi sebagai saksi-Nya, Kristus memuliakan harkat kemanusiaan kita. Di sinilah kenaikan Tuhan menjadi makna tersendiri, karena ia mengembankan tugas ilahi itu kepada kita.

Disarikan dari Kristus yang Dimuliakan adalah Kristus yang Memuliakan Hasrat Kemanusiaan oleh Pdt. Nanang (GKI Mangga Besar)