Reformasi Prostestan kala itu sepertinya akan segera berakhir. Martin Luther dijatuhi hukuman dalam persidangan di Worms di tahun 1521. Ia dianggap bersalah karena tidak mau menarik sama sekali ke-95 tesisnya yang mengkritisi gereja. Biarawan Agustinian itu diperintahkan untuk ditangkap dan dibolehkan untuk dibunuh.

Namun penguasa Jerman, Frederich III, punya andil politis. Luther sengaja dilarikan ke Kastil Wartburg, demi keselamatannya. Disana Luther menerjemahkan sejumlah bagian Alkitab ke bahasa Jerman, serta punya waktu lebih banyak menuliskan pokok-pokok ide Reformasi.

Tapi masa tenang itu punya dampak lain. Luther kehilangan kontak lansung dengan gereja Wittenberg, saat reformasi justru sedang hangat-hangatnya berlangsung.

Di Wittenberg, selama Luther tidak ada, perkumpulan Protestan dipimpin koleganya, Philipp Melanchton. Selain Melanchthon ada pula Andreas Bodestein Karlstadt dan rekan biarawan Luther, Gabriel Zwilling yang juga sering berkhotbah di gereja Wittenberg.

Namun, nampaknya tidak ada dari mereka yang semenonjol Luther, yang dihargai pendapatnya oleh semua umat.

Ketiadaan figur yang kuat, menghasilkan sejumlah ketidakpastian. Zwilling dan Karlstadt semakin mengeraskan bentuk protes reformator terhadap gereja Katolik. Mereka menolak semua gambar, patung dan simbol-simbol liturgis.

Di missa Natal 1521, Karlstadt secara dramatis memimpin missa dengan gaya injili. Ia sama sekali tidak memakai jubah, serta membagikan komuni dengan hosti dan anggur terpisah.

Tak lama kemudian, kekacauan semakin banyak terjadi. Muncul sekelompok orang yang disebut nabi-nabi Zwickau, yang menolak baptisan bayi dan menyerukan agar umat tidak mengikuti missa yang dipimpin oleh imam yang dianggap punya cela.

Perubahan-perubahan radikal ini memicu sejumlah penghancuran patung, ikon dan relik. Semangat kaum awam yang anti pada para klerus muncul dengan mencolok di kota Wittenberg. Pergeseran ekstrim para reformator ini tentu agak mengkhawatirkan, baik secara politis maupun secara spiritual.

BACA JUGA  CEO yang Bekerja dengan Hati


Selama ketidakhadiranku, setan telah masuk ke kawanan dombaku dan menularkan kebusukan yang tidak dapat kuperbaiki hanya dengan tulisan, namun harus dengan kehadiran…

Begitu Luther menulis pada Frederich III. Sang reformator itu bertekad, apapun risikonya ia harus datang ke Wittenberg, untuk memberi pengarahan pada proses reformasi. Ia pun tiba di Wittenberg pada 6 Maret 1522. Saat itulah Luther mendabarkan delapan seri khotbahnya yang dikhotbahkan delapan hari dimulai dari Minggu Invocavit (minggu pra-Paska pertama) 9 Maret 1952.

Tampil dengan jubah khas biarawan Agustinian, Luther sejak awal menunjukkan ketidaksetujuannya pada perubahan ekstrim yang dipelopori oleh Karlstadt dan Zwilling. Dalam seri khotbahnya, Luther memberi acuan dan batasan sejauh mana koridor reformasi Protestan bisa berlangsung.

Luther mencakupkan sejumlah isu penting. Pertama sekali ia menegaskan bahwa keselamatan sebagai hal personal di hadapan Tuhan dan tidak bergantung pada hal luaran seperti penggunaan patung, cara komuni atau menikah tidaknya imam.

Ia pun mengingatkan agar umat Kristiani menekankan nilai-nilai cinta kasih, kesabaran, kebebasan dan iman pada Tuhan. Ini jauh lebih penting ketimbang penggunaan cara yang keras dalam melakukan perubahan.

Gaya moderat dan konservatif Luther ini berdampak besar pada keteraturan gerakan Protestan. Setelah khotbahnya yang keenam, pejabat hukum Wittenberg, Jereome Schruf menulis pada penguasa Jerman:

Sungguh suatu sukacita, kehadiran Dr. Luther di tengah kami. Kata-katanya, lewat karunia ilahi, telah membawa kembali orang yang bingung, pada jalan kebenaran.

Meski demikian, gaya konservatif Luther juga membuat faksi-faksi radikal Protestan menyatakan keluar dari gereja Wittenberg. Hal yang kemudian juga terasa saat Luther memilih sikap tengah terkait pemberontakan petani Jerman di tahun 1524-1525. **arms

Baca juga: Martin Luther: Sang Reformator yang Konservatif (1)
Ilustrasi: Martin Luther dalam lukisan Lucas Cranach the Elder