Tak ada yang menyangka malam itu akan mengubah semua rencana John Calvin. Semula ia hanya berencana menginap semalam di Jenewa, Swiss. Calvin sedari awal ingin menuju Strasbourg, kota Jerman dengan status merdeka, yang menjanjikan perlindungan pada kaum reformis Protestan. Namun, ketatnya penjagaan tentara kerajaan Perancis, membuatnya menyingkir sejenak.

Itu terjadi pada 1536. Calvin baru saja menyelesaikan karya besarnya Institutio Christianae Religionis, yang berupa uraian sistematis keyakinan Protestan. Hal yang membuatnya menjadi incaran pemerintah Perancis yang pro pada Gereja Katolik Roma. Calvin menilai tak ada lagi masa depan untuknya berkarya di seluruh Perancis.

Tapi, di Jenewa ia bertemu sesama reformis Perancis, Guillaume Farel (lebih dikenal kemudian dengan nama Inggirsnya, William Farel). Farel mengajaknya turut terlibat dalam karya pelayanan mereformasi dan menumbuhkan jemaat di Jenewa.

Calvin semula segan. Ia berharap bisa memperbaiki Institutio, atau menulis sejumlah karya lain tentang iman Protestan demi literasi kerohanian yang masih terbilang minim. Ia pun merasa perannya lebih banyak pada memberi dasar biblikal yang kuat pada seluruh aspek gerakan Protestan, bukan mengorganisasi jemaat.

Tapi Farel nampaknya punya pandangan praksis sekaligus futuris. Dengan tegas ia menyumpah, “Terkutuklah engkau dengan segala usahamu, jika di tengah kebutuhan jemaat seperti ini engkau menolak. Engkau lebih mencari kehormatan dan kenyamanan diri sendiri ketimbang kemuliaan Kristus.

Calvin menyerah. Ia pun terlibat menjadi pengajar di jemaat Jenewa. Bersama Farel, ia mengajukan draft tata gereja serta landasan untuk iman Protestan, kepada dewan kota. Usulan ini terbilang sangat tegas dan detil.

Hal yang menciptakan sejumlah pertentangan. Puncaknya saat dipaksa tetap menggunakan roti tak beragi dalam komuni, Calvin dan Farel menolak. Kerusuhan timbul, dan mereka dipersalahkan karena dinilai tidak simpatik pada masyarakat Jenewa.

BACA JUGA  Seri Tokoh: Menelusuri Spiritualitas Pdt. Kuntadi (1)

Tapi apa yang disampaikan Farel nampaknya berupa nubuatan. Meski harus menyingkir sejenak dari Jenewa (Calvin akhirnya pindah ke Strasbourg dan Farel ke Neuchatel), lima tahun kemudian dewan kota Jenewa akhirnya menyetujui usulan Calvin dan memintanya kembali memimpin jemaat Jenewa.

Walhasil kita pun melihat bagaimana Jenewa dan reformasi Calvinis saling membentuk. Lewat ajaran, khotbah dan keseharian yang ada di jemaat ini, iman khas Calvinisme tumbuh dengan gayanya yang rinci dan disiplin. **arms

Ilustrasi: Monumen Reformasi Jenewa (Discerning History)