Sejumlah sejarahwan gereja sampai saat ini masih berdebat, terkait kapan Yohanes Calvin mengubah keyakinannya dari seorang Katolik Roma, kemudian mengimani reformasi Protestan. Perubahan itu memang terbilang unik, mengingat latar keluarganya di Noyon, Perancis yang begitu kental dengan keyakinan Katolik Roma. Juga perubahan radikal yang diusulkan Calvin kemudian, selama masa reformasi.

Beberapa ahli meyakini konversi itu terjadi sekitar tahun 1533, sebelum sang reformator mengundurkan diri dari penempatan kampusnya, Universitas Bourges. Kampus ini memang merupakan kampus pemerintah Kerajaan Perancis yang pro pada Gereja Katolik Roma. Dimana selepas tahun 1530-an, kampus mulai bertindak keras pada kaum humanis yang bersimpati pada Reformasi Protestan. Pengunduran diri Calvin dianggap sebagai bentuk protes dan tekadnya untuk keluar dari keyakinan lama.

Namun, sejarahwan seperti T. H. L. Parker, meyakini perubahan keyakinan itu terjadi lebih awal. Sangat mungkin ahli hukum Perancis ini telah mendalami ide reformasi semasa studinya di sekitar tahun 1529, delapan tahun selepas persidangan Worm yang menghukum Martin Luther dan gerakan Protestan. Apalagi kala itu ide-ide Protestan telah menyebar cukup luas di kalangan humanis Perancis. Calvin sendiri selama 18 bulan di Bourges mendalami Bahasa Yunani untuk studi Perjanjian Baru.

Kedua catatan tersebut bisa saja sejalan. Yang jelas, keduanya mencirikan pemikiran Calvin yang serius dan disiplin mendalami isu, serta semangatnya yang tegas dan seringkali masuk ke dalam polemik.

Lahir dengan nama Jehan Cauvin, pada 10 Juli 1509, ia terbilang mudah mengakses pendidikan dengan literatur melimpah. Ayahnya, Gerard Cauvin, adalah seorang pejabat notaris untuk keuskupan dan persidangan gerejawi. Sosok ayahnya memang menjadi sangat dominan, apalagi selepas kematian ibunya saat Calvin masih berusia belia.

BACA JUGA  Sinergi demi Pendidikan Kristiani

Pemuda ini mengenyam sejumlah pendidikan bergengsi. Awalnya ia dipersiapkan sebagai seorang imam gereja Katolik dan telah menamatkan pendidikan bahasa Latin di Universitas Paris. Ayahnya kemudian menariknya dari pendidikan imamat untuk belajar hukum di Universitas Orleans. Baru selepas kematian ayahnya, Calvin memilih Bourges sebagai tempat studi terakhirnya.

Keluasan khasanah pendidikan itu pula yang membuat ide-ide teologis Calvin, melampaui cakupan para reformator Protestan lainnya. Tidak melulu soal doktrin utama gereja, tapi juga penerapan dan argumentasi rincinya dalam disiplin pribadi, praktik berjemaat, organisasi gereja, hingga pengaturan masyarakat yang berciri Reformasi Protestan. **arms

Ilustrasi: Monumen Reformasi Jenewa (Discerning History)