Gereja Kristen Indonesia punya panggilan ganda: menjadi Kristen sekaligus menjadi Indonesia. Untuk menjadi Kristen ukurannya jelas. GKI perlu menjadikan Kristus sebagai kepala kehidupannya. Memakai bahasa kitab suci, GKI perlu hidup sebagaimana Kristus telah hidup (I Yoh 2:6). Lalu, apa ukuran untuk menjadi Indonesia?

Menjadikan pergumulan, harapan, kesedihan dan suka cita Indonesia sebagai pergumulan, harapan, kesedihan dan suka cita GKI juga. Tanggal 5-6 Juni 2019, sekitar 207 juta umat Muslim di Indonesia akan merayakan Idul Fitri. Jika GKI berkomitmen menjadi Indonesia, ia perlu merasakan dan merayakan suka cita Saudara-Saudara Muslim ketika merayakan Idul Fitri.

Idul Fitri atau Lebaran
Idul Fitri berasal dari kata Id dan Al-Fitr. Diterjemahkan secara hurufiah, artinya hari raya berbuka, hari raya tidak berpuasa. Maksudnya, setelah berpuasa selama bulan Ramadan, umat Muslim dianjurkan untuk mengakhiri puasanya.

Di malam sebelum dan sesudah hari raya, umat Muslim dianjurkan mengumandangkan takbir, memuji dan memuliakan Allah yang besar. Di pagi hari, Saudara/i Muslim sholat Idul Fitri.

Biasanya, Imam mengingatkan agar jemaah membayar zakat fitrah sebelum sholat Id. Zakat fitrah bisa diberikan selama bulan Ramadan, paling lambat sebelum sholat Id. Jika diberikan sesudah sholat, ia tidak termasuk zakat melainkan sedekah.

Secara kultural, masyarakat Indonesia menyebut Idul Fitri sebagai Lebaran. Ternyata, kata Lebaran memiliki arti yang indah. Pertama, lebar hati, menunjuk kepada kebesaran hati untuk meminta maaf dan memaafkan. Kedua, luber atau melimpah rejeki dan pahala.

Ketiga, labur (laburan: tindakan mengecat rumah), menunjuk kepada keindahan rohani yang muncul karena selama ramadan umat Muslim beribadah. Keempat, lebur, menunjuk kepada keinginan untuk bersatu atau dekat dengan Tuhan. Terakhir, libur, menunjuk kepada aktivitas liburan yang dipakai untuk saling bersilaturahmi.

BACA JUGA  Menuju Pemberdayaan Kaum Muda GKI yang Berkelanjutan

Mengucapkan selamat Idul Fitri
Ada makna rohani yang baik dari Lebaran. Beberapa maknanya bahkan memiliki kemiripan dengan keyakinan iman Kristiani. Tentang lebar hati untuk minta maaf dan memaafkan, misalnya.

Kristus juga mengajar kita untuk memohon pengampunan Tuhan sekaligus komitmen untuk mengampuni sesama (Luk 11:4). Atau kerinduan untuk melebur dengan Tuhan. Kristus sendiri berdoa agar umat-Nya menjadi satu di dalam Dia dan Dia di dalam Allah Bapa (Yoh 17:21). Kita bisa melihat kemiripan – kemiripan lainnya.

Karena keterbatasan ruang, cukuplah dikatakan, Lebaran punya makna rohani yang baik. Karena itu, jangan ragu untuk memberikan ucapan selamat Idul Fitri atau hari raya Lebaran untuk Saudara-saudara kita umat Muslim.

GKI, baik sebagai lembaga mau pun anggotanya secara pribadi, perlu mengunjungi pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tetangga yang merayakan Lebaran, lalu mengucapkan selamat Idul Fitri, sambil memohon maaf jika selama menjadi bagian dari masyarakat, kita melakukan kesalahan, baik yang disengaja mau pun tidak sengaja.

O ya, baik sekali jika dalam syafaat di kebaktian tanggal 2 Juni ini, kita berdoa agar umat Muslim dapat merayakan Idul Fitri dengan damai, suka cita dan agar kehidupan rohani mereka menjadi lebih baik setelah berpuasa satu bulan lamanya.

Penulis: Pdt. Darwin Darmawan (Anggota Bidang Pusat Pelayanan Sosial Masyarakat (PPSM) – BPMSW GKI SW Jabar)