Dalam banyak perayaan Pentakosta di gereja, seringkali penekanannya lebih diarahkan pada pencurahan Roh Kudus. Lantas umat meresponnya dengan menyampaikan persembahan syukur tahunannya kepada gereja. Seolah-olah kedua hal tersebut merupakan dua hal yang terlepas satu sama lainnya.

Padahal hari raya Pentakosta bagi gereja merupakan hari raya yang memiliki tiga rangkap makna, yakni sebagai ucapan syukur tahunan, pencurahan Roh Kudus dan hari lahir gereja. Dalam Pentakosta, umat akan belajar bahwa sesungguhnya ada keterkaitan antara pengucapan syukur tahunan yang umat bawa dengan karya Roh Kudus dalam kehidupan umat sebagai gereja bagi dunia. Karya itu juga termasuk, bahkan juga terutama merujuk pada karya bagi bumi.

Kita melihat bagaimana kita terus berhadapan dengan masalah kerusakan lingkungan hidup dan ketidakadilan ekologis. Korporasi besar yang memegang hak tertentu, bisa mengonversi hutan menjadi perkebunan (entah kelapa sawit atau lainnya). Di balik tindakan konversi tersebut ada perubahan ekosistem yang menimbulkan persoalan sosial, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi makhluk hidup lain yang ada di dalamnya. Kota besar pun tak luput dari masalah, seperti: polusi, kemacetan, banjir dan lain sebagainya.

Di tengah-tengah kondisi yang seperti itu, umat hidup dan bergereja. Lalu apa kena mengena pengajaran Alkitab dalam konteks yang demikian? Peringatan dan pemaknaan akan Pentakosta ternyata relevan dan berkontribusi positif guna menjawab pergumulan hidup umat.

Di sinilah umat ditolong untuk menemukan perspektif baru dari peringatan Pentakosta. Roh Kudus yang dihadirkan Allah dalam kehidupan orang percaya itu, tidak sekadar memberi kemampuan khusus (bahasa asing/xenolalia), mengajarkan segala sesuatu, mengingatkan akan firman Allah, tapi juga mendorong umat membarui bumi.

Jika peran yang terakhir ini coba direfleksikan dalam kehidupan umat di masa kini, maka bisa menjadi kekuatan pendorong yang besar bagi upaya menyahabati alam. Lebih jauh, alam terjaga kondisinya untuk tetap memberikan daya dukung bagi kehidupan umat. Maka persembahan syukurnya kepada Tuhan pada hari Pentakosta, jadi wujud keberhasilan upaya melestarikan lingkungan.

BACA JUGA  Pelayanan Mentawai

Umat yang tinggal di kota besar, memang tidak banyak yang bekerja di bidang-bidang yang langsung berurusan dengan pengolahan alam. Namun, bukan berarti lantas umat terlepas dari tanggung jawabnya menyahabati alam. Jika alam rusak sehingga banjir terjadi, maka kantor-kantor atau badan-badan usaha tidak bisa beroperasi. Umat tidak bisa bekerja. Jika hal tersebut terjadi secara berkepanjangan, bukan tidak mungkin umat tidak mendapat penghasilan, maka apa yang mau dibawa kepada Allah pada hari Pentakosta sebagai persembahan syukurnya?

Lebih jauh, Pentakosta juga menaruh harapan, bahwa kedatangan Roh Kudus akan membarui kehidupan. Sebagaimana disebut dalam Mazmur: “Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.” (Mzm. 104 : 30).

Pengutusan kita sebagai murid-murid Kristus masa kini juga jangan sampai melupakan Pekabaran Injil pada segala makhluk, mengajak semua makhluk bersukacita, mensyukurikeselamatan anugerah Tuhan, melalui pemeliharaan, penataan dan pengelolaan kehidupan yang lestari. Kita perlu menjaga dan memelihara keberlangsungan hasil bumi. Karena kehidupan kita juga membutuhkan hasil bumi.

Sumber: Tim Bina Jemaat GKI Nurdin