Baru-baru ini ada sebuah aplikasi yang menghebohkan para pengguna gawai, dalam waktu seminggu saja telah diunduh dan digunakan oleh puluhan juta pengguna. Dengan aplikasi tersebut, Anda dapat mengubah foto Anda masa kini menampilkan prediksi wajah Anda di usia tua/lanjut usia.

Kehebohan apps pengubah foto menjadi lanjut usia tersebut menampilkan sikap manusia tentang usia yang kadang mendua. Di satu sisi manusia takut menua. Terlihat dari maraknya berbagai produk yang menawarkan “perlawanan” terhadap penuaan (anti-aging), entah produk kecantikan, kesehatan ataupun gaya hidup/olahraga yang menjamin penggunanya akan “awet muda” atau minimal menghambat proses penuaan.

Namun di sisi lain, ada rasa penasaran tentang bagaimana keadaan kita di usia tua nanti. Fenomena kehebohan apps pengubah foto adalah salah satu di antaranya. Sikap mendua itu juga nampak dalam berbagai kebudayaan di dunia; patung-patung Yunani misalnya cenderung menampilkan tokoh-tokoh yang muda, gagah perkasa dengan otot-otot simetrik yang mengeras; sebaliknya patung-patung dari Tiongkok cenderung menampilkan figur laki-laki tua dengan jengot memutih, perut yang buncit.

Lalu bagaimana dengan Alkitab? Menariknya Alkitab juga bicara tentang kedua periode kehidupan terse-but, usia tua/lanjut dan usia muda. Namun nampaknya dalam Alkitab bukan usia yang menjadi penekanan utama, bukan pertama-tama soal usia tua atau muda. Mengapa demikian?

Barangkali karena para penulis Alkitab menganggap bahwa usia muda atau tua adalah keniscayaan yang terjadi dalam ke-hidupan manusia, karenanya menjadi hal yang “biasa” dalam arti memang itu yang seharusnya terjadi. Misalkan dalam Pengkhotbah 3:1-11 yang bicara tentang “segala sesuatu ada waktunya.”

Namun seperti sebuah pepatah yang pada tahun ’90-an sempat populer menjadi tagline iklan sebuah produk, “Jadi Tua itu Pasti, Jadi Dewasa Itu Pilihan,” maka ada hal-hal yang jauh lebih penting, lebih esensial yang harus terjadi dalam kehidupan seseorang, entah ia masih berusia muda atau sudah berusia tua/lanjut. Hal-hal yang sebenarnya merupakan pilihan hidup, yang harus dipilih, dijalani, khususnya dalam terang iman.

BACA JUGA  Siaga dalam Hidup Yang Berkenan

Misalkan apa yang kita baca dalam Mazmur 90, yang konon ditulis oleh Musa di usia lanjutnya (banyak penafsir meyakini bahwa Musa hidup selama 120 tahun dalam 3 periode, 40 tahun sebagai pangeran di Mesir, 40 tahun sebagai pelarian di Midian dan 40 tahun memimpin bangsa Israel di padang gurun). Sekalipun kemungkinan ditulis di usia lanjutnya, namun sang penulis tidak meminta kesehatan, atau kejayaan atau hal-hal lainnya.

Hal yang diminta si penulis kepada Tuhan adalah agar ia diberikan “hati yang bijaksana.” Mengapa demikian? Agaknya dengan hati yang bijaksana, ia dapat menjalani hari-harinya dengan penuh rasa syukur, baik dalam keberhasilan maupun kegagalan, kesuksesan ataupun kejatuhan, dalam kekuatan ataupun kelemahan. Hati yang bijaksana, yang lahir dari “menghitung hari-hari kami,” menghitung berkat Tuhan yang telah diterimanya sepanjang hidupnya.

Sementara itu, dalam 1 Timotius 4:12 kita menemukan nasehat Rasul Paulus kepada Timotius, anak didiknya yang dikirim untuk menggembalakan Jemaat. “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Perhatikan bahwa hal-hal yang menurut Paulus harus ditunjukkan menjadi teladan dari Timotius (perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian) dalam budaya Yahudi (yang menjunjung tinggi, menghargai usia lanjut/tua) biasanya diharapkan diberikan oleh para tetua, orang-orang yang sudah beru-sia lanjut. Merekalah yang biasanya dianggap lebih bijak, lebih banyak “makan asam dan garam,” berpengalaman hingga teladannya patut ditiru.

Namun Paulus tanpa ragu-ragu mengatakan kepada Timotius yang masih muda “Engkaupun harus juga menunjukkan keteladanan dalam hal-hal tersebut.

Jadi yang penting bukan soal tua atau muda, karena usia tua atau muda adalah bagian perjalanan hidup yang harus kita lalui. Yang lebih utama adalah bagaimana kita mengisi dan menjalaninya. Dengan hati yang bijaksana dan penuh rasa syukur akan anugerah Tuhan; dengan menjadi teladan dalam hidup beriman dan karakter.

BACA JUGA  Seri Dapur Sejarah: GKI Anugerah

Baik kita yang sudah tua maupun masih muda, dipanggil Allah untuk menghadirkan dan memiliki hal-hal tersebut dalam hidup secara nyata. Maka di situlah hidup kita, entah masih dalam usia muda atau sudah tua/lanjut usia, akan menjadi hidup yang memuliakan nama Tuhan.

Penulis: Pdt. Sthira Budi P (GKI Gading Indah)