Saat membaca tata liturgi GKI terkadang kita melihat bagian yang disebut doksologi. Karena biasanya ada di ujung doa, terutama menjelang akhir ibadah, orang sering memaknai doksologi sebagai doa penutup. Atau memaknai artinya setara dengan kalimat berkat atau pengutusan.

Namun makna doksologi bukanlah seperti itu. Secara etimologis doksologi berasal dari kata Yunani doxa dan logia, yang kira-kira berarti kata-kata pujian/kemuliaan. Dalam tradisi liturgi Kristiani doksologi dimaknai sebagai kidung singkat yang berisi pujian pada Tuhan.

Tradisi menaruh puji-pujian pada Allah diantara doa dan nyanyian yang dilantunkan dalam ibadah sebenarnya telah ditemui dalam ibadah Yudaisme. Dalam ibadah harian di bait Allah maupun di sinagog ada sejumlah varian dari teks Kaddish (pujian pada Allah yang Kudus), dinyanyikan bersahut-sahutan antara pemimpin ibadah dan jemaat. Biasanya ini didaraskan di peralihan dari tiap bagian ibadah.

Kekristenan pun memakai cara yang mirip dengan menyelipkan sejumlah doksologi dalam bagian-bagian tertentu dari liturgi. Tidak sekedar bermakna vertikal sebagai pujian pada Allah, doksologi juga kerap menjadi bentuk pengakuan iman. Sepanjang abad ketiga dan keempat Masehi, nyanyian-nyanyian doksologi yang menegaskan Trinitas dan keilahian Kristus menjadi bagian yang penting dalam liturgi. Ini pula yang menjadi ciri tersendiri, dimana doksologi Kristiani umumnya sangat bercorak Trinitarian.

Bentuk doksologi Kristen yang paling klasik mungkin adalah kalimat pada akhir Doa Bapa Kami, “Karena Engkalulah yang empunya kerajaan, kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.” Bagian yang dipercaya merupakan tambahan liturgis dari Matius 6 itu diyakini sebagai bentuk awal doksologi, yang kemudian ditegaskan dalam kerangka Trinitas dalam berbagai variasi, semisal dalam doksologi klasik lain seperti Gloria Patri (Kemuliaan bagi Bapa, Putra dan Roh Kudus, sekarang dan selalu sampai sepanjang segala masa).

BACA JUGA  Ziarah Wilayah Awal Kekristenan: Etiopia

Dalam bentuk yang lebih awal seperti di liturgi Gereja Ortodoks atau liturgi Katolik sebelum pembaruan, doksologi biasanya muncul beberapa kali dalam doa-doa selama liturgi. Sementara dalam tradisi Protestan, seperti dalam liturgi GKI, doksologi terdapat dalam beberapa bagian seperti pelayanan persembahan (termasuk Perjamuan Kudus) sebagai pernyataan bahwa apa yang di-persembahkan adalah untuk memuliakan-Nya, juga ada di akhir kebaktian sebagai respon syukur jemaat. **arms