Pdt. Dr. Erari menyebutkan beberapa strategi untuk merangkul kaum milenia. Disebutkan diantaranya memasukkan unsur milenia dalam kemajelisan, merevitalisasi liturgi ibadah, membuka peluang digunakannya berbagai instrumen musik dan khotbah yang interaktif.  Apa yang dikatakan itu betul semua. Semuanya penting bahkan sangat penting, tetapi coba perhatikan semuanya berkisar hanya pada soal ritual-ceremony.

Mungkin efeknya kaum milenial akan lebih banyak datang beribadah memenuhi ruang-ruang gereja kita, tetapi tujuan gereja-gereja kita bukan sekedar supaya umat memenuhi ruang ibadah gereja kita bukan? Gereja tidak pernah dan tidak boleh menjadi tujuan bagi dirinya sendiri. Tujuan gereja adalah untuk memuliakan Allah serta menjadi garam dan terang bagi umat manusia dan dunia yang Allah kasihi.

Konon, menurut Dr. Thomas Pentury, Dirjen Bimas Kristen, dalam salah satu diskusi publik lalu, ada tiga titik kelemahan gereja-gereja kita. Sesungguhnya banyak gereja-gereja, tidak semua, lebih fokus pada pembangunan fisik atau gedung, ritual-ceremony dan organisasi.

Ketiganya sangat penting, tetapi bila fokus kita hanya pada ketiganya tidak akan cukup. Ketiganya menempatkan gereja sebagai pusat dari segala sesuatu. Umat, termasuk generasi milenial, hanya aktif di sekitar dan untuk pembangunan serta pertumbuhan gereja. Mereka seperti tumbuhan yang ditanam dalam pot, iman mereka akan bertumbuh subur dan bagus, tetapi kapasitas dan wawasannya sangat sempit.  Hanya sebatas pot tanaman itu! 

Mereka tidak akan mampu berkompetisi dan berkontribusi dalam dunia yang luas dengan segala persoalannya karena memang gereja tidak mempersiapkan mereka. Nah, apa yang diabaikan banyak gereja kita adalah mempersiapkan umat dan generasi milenial memenuhi panggilannya menjadi garam dan terang dalam persoalan bangsa dan dunia: dalam masalah ekonomi, sosial-politik dan dalam merespon perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi.

BACA JUGA  Tuhan Pulihkan Kami

Pengalaman teman-teman NU mungkin bisa menjadi inspirasi bagi gereja-gereja kita. NU dan Muhammadiyah mempersiapkan by designed generasi milenial mereka untuk berkompetisi dan berkontribusi bagi bangsa dan dunia. Mereka selalu adakan pelatihan menulis dengan tujuan agar generasi mudanya dapat menulis opini di berbagai media cetak nasional. Dan mereka berhasil!

Mereka juga membuat berbagai diskusi dan seminar, kecil dan besar atau formal dan informal, untuk membahas semua persoalan bangsa dan dunia. Persoalan ekonomi, hukum, perburuhan, lingkungan hidup, sosial-politik, agama, filsafat, dan sebagainya. Peminatnya selalu membludak. Kaum milenial itu menjadi generasi pembelajar yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan sanggup berkompetisi atau berkolaborasi dengan siapa pun.

Siapa yang tidak kenal Ulil Abshar Abdalla, Saiful Mujani dengan SMRC-nya, Denny JA dengan LSI-nya, Burhan Muhtadi, Ahmad Suaedy, Rumadi, dan banyak lagi. Mereka semua menjadi orang hebat karena NU mempersiapkan secara strategik dan terencana.

Intinya, kita harus memperbaiki dan melakukan pembaharuan secara holistik: personal-sosial, intelektual-spiritual, pembaruan gereja dan pembaruan dunia agar generasi milenial kita bukan saja rindu gereja, tetapi juga karena mereka tahu bahwa melalui gereja mereka sedang dipersiapkan untuk menjadi berkat bagi gereja, bangsa dan dunia demi kemuliaan namaNya.

Penulis: Pdt. Dr. Albertus Patty