Kita perlu beranjak dari pola pikir gereja yang terpisah dari masyarakat. Tidak bisa hanya sekedar merancang program sendiri, yang kita rasa diperlukan oleh masyarakat. Lalu mengeksekusi dan mendanai sendiri, sementara masyarakat melihat dari luar…

Pdt. Hendra Setia Prasaja menjabarkan pekerjaan rumah besar yang perlu dialami oleh gereja, saat mengupayakan karya bagi masyarakat. Ditemui di GKI Cianjur akhir Mei lalu, pendeta kelahiran Cilegon, empat puluh tahun silam ini, dengan santai memberi otokritik atas karya bagi masyarakat yang banyak dikerjakan gereja, termasuk yang dikerjakan selama ini di GKI Cianjur.

Pdt. Hendra meyakini hal tersulit yang harus dipersiapkan justru ada di dalam gereja itu sendiri. Ia lantas mengurai pengalaman GKI Cianjur mengelola pelayanan bagi masyarakat. Bermula dari sekedar layanan karitatif yang diprogramkan gereja, mereka bertahun-tahun mencoba beranjak ke arah kolaborasi.

Kini layanan koperasi untuk kredit usaha, rumah belajar, Sangu Setiap Sabtu (S3), hingga layanan ambulans, selalu diupayakan jadi pelayanan bersama masyarakat. Para relawan yang bukan hanya warga jemaat pun ikut serta mulai dari menajamkan ide, pengerjaan hingga pendanaan.

Misalnya di program Sangu Setiap Sabtu,” ia mencontohkan. “Program ini melibatkan banyak orang untuk memberi bantuan makanan serta menjembatani agar warga yang tidak mampu beroleh layanan kesehatan. Karena berkolaborasi dengan masyarakat, itu artinya gereja sampai ke dapur-dapurnya bisa juga diakses oleh warga umum yang menjadi relawan.

Bahkan di layanan ambulan gratis, relawan yang bukan warga GKI Cianjur, punya kunci ambulans dan kunci gereja. Jemaat GKI Cianjur sendiri belum tentu punya akses itu. Atau di Rumah Belajar yang guru-gurunya juga bukan hanya warga gereja,” lanjutnya.

BACA JUGA  Selamat Bekerja BPMSW GKI SW Jawa Barat 2019-2023

Menghadapi keterbukaan seperti itu memang terkadang membuat jemaat sendiri menjadi kikuk. Perlu ada proses bersama yang agak panjang. Agar jemaat lebih terbiasa dan menanggap hal inilah sewajarnya yang terjadi, jika gereja berkarya bersama masyarakat.

Jadi kalau GKI, atau banyak gereja bicara soal hospitalitas, semangatnya mungkin sudah ada. Tapi, jujur saja kita belum begitu siap. Sembari mulai berkarya, kita perlu lebih banyak mengusahakan ruang perjumpaan, agar kita sendiri tidak asing dengan tempat kita ada,” saran Pdt. Hendra.

Lebih jauh, kebahagiaan yang lebih besar sejatinya adalah jika layanan yang ada dimiliki bersama masyarakat. Sehingga keputusan terkait pengembangan layanan tidak hanya bergantung pada pihak gereja.

Kadang ada rasa yang seolah ingin berkata: ‘Itu kan punya kita.’ Padahal jika aset yang ada dikelola bersama masyarakat, justru itu lebih baik. Berarti kita telah mencetak kepedulian masyarakat, sehingga senada dengan kepedulian kita. Ya kenapa harus takut melepasnya?” Ujar Pdt. Hendra retoris.

Otokritik pendeta lulusan STT Jakarta dan UKRIDA ini, memang perlu sekali direfleksikan lebih jauh. Apalagi bila kini gereja semakin mengupayakan layanan bagi masyarakat. Apakah gereja memang sudah siap berkolaborasi, dalam arti terbuka untuk diakses masyarakat dan rela melepas karya yang ada untuk dikerjakan bersama masyarakat? **arms

Foto: dok pribadi