Saya itu orangnya sebenarnya introvert,” aku Pdt. Hendra Prasaja. “Agak sulit memulai kenalan dan bercerita, tapi sebenarnya sangat terbantu dengan media sosial. Jadi lebih mudah membangun relasi. Sekedar menyapa, jadi pintu masuk untuk ketemu langsung.

Bagi Pdt. Hendra bentuk memang suatu hal yang semestinya dikerjakan oleh pendeta di wilayah pelayanannya. Seorang pendeta semestinya dikenal di masyarakat. Dia adalah pendeta bagi masyarakat, tidak hanya sekedar di lingkup gedung gereja. Lewat relasi seperti itu pula, pemimpin Kristiani belajar permasalahan riil yang dihadapi bersama sebagai anggota masyarakat.

Ia mengakui ada kekurangan di kebanyakan pendeta GKI untuk berelasi dengan kelompok masyarakat selain warga jemaatnya. “Mungkin karena kurang dibekali, atau juga karena ada trauma bertahun-tahun sehingga kita menganggap: ‘Gak perlu lah berelasi seperti itu!’ Akhirnya main di internal terus walaupun passion kita untuk berbagi dengan yang lain, itu besar. Hasilnya, ya nggak bisa kolaborasi,” paparnya.

Kecenderungan seperti ini seringkali berimbas gereja tidak bisa melihat dan terlibat langsung upaya mengadvokasi permasalahan spesifik di masyarakat. “Seringnya dalam kerjasama, karena kita nggak terlalu tahu dan nggak kenal, gereja malah diperlakukan sekedar sebagai ATM, penyedia dana. Itu realita kok. Bukan sepenuhnya salah pihak luar juga, karena selama ini gereja juga hanya bisa melakukan hal seperti itu.

Pengalaman Pdt. Hendra bersama GKI Cianjur memang menunjukkan bahwa proses menuju kolaborasi yang setara itu perlu waktu yang tidak singkat. Ia berharap contoh-contoh baik yang dirintis oleh sejumlah layanan GKI bisa menginspirasi yang lain. Karena sejauh ini, menurut Pdt Hendra, hal itu memang belum dirancang secara sistematis sebagai bekal pembinaan para pendeta dan majelis jemaat.

BACA JUGA  Ketaatan seperti Kristus

Saya ini kan otodidak dan mungkin dianggap anomali. Tapi menurut saya, pendeta tidak perlu harus menguasai semua hal. Di layanan GKI Cianjur misalnya, saya kan nggak ngerti soal bikin aplikasi, soal kurikulum rumah belajar, soal supporting life system ambulans atau yang lain. Tapi, peran yang saya ambil adalah mengkoneksikan, memberi ruang serta apresiasi. Itu justru yang perlu ada,” lanjutnya.

Agaknya kekuatan peran itu pula yang makin diperlukan pendeta lulusan STT Jakarta dan UKRIDA ini di ladang pelayan selanjutnya. Sebagaimana diketahui, Pdt Hendra kini ditunjuk sebagai pengerja penuh waktu di Badan Bina Warga GKI Sinode Wilayah Jawa Barat, menggantikan Pdt. Melanie Ayub Egne, yang kembali melayani jemaat GKI Agus Salim, Bekasi.

Ya, saya berharap pengalaman 15 tahun di GKI Cianjur, juga bisa memberi hal baik. Bina Warga saya kira juga bisa menjadi hub, yang memungkinkan kolaborasi berbagai bentuk pembinaan yang inovatif dan efektif bagi warga jemaat,” harapnya. **arms