Nama Anugerah itu memang menggambarkan sejarah panjang penyertaan Tuhan untuk jemaat ini. Kita mengalami berbagai anugerah yang Tuhan percayakan, hingga menjadi seperti sekarang,” ungkap Pdt. Cenglyson Tjajadi, salah satu pendeta jemaat di GKI Anugerah, Bandung dalam perayaan 70 tahun jemaat ini Selasa (16/7) lalu.

Pengakuan itu rasanya tidak berlebihan. Sekian lama menjadi jemaat tanpa gedung sendiri, serta beberapa kali menghadapi tantangan dalam perjalanan pelayanan, adalah seklumit bukti bagaimana Tuhan menyertai umat dengan anugerah-Nya.

Jemaat ini memiliki akar yang sama dengan pelayanan khusus untuk jemaat Tionghoa di Jl. Kebonjati, Bandung. Sejak akhir abad ke-18, pencarian spiritual mandiri keluarga-keluarga Tionghoa di Bandung, berbuah pada bergabungnya warga Tionghoa ke jemaat Kristen yang bernaung di bawah lembaga misi Belanda di Jawa Barat (Nederlandse Zendelings Vereeniging, NZV). Tahun 1924 jemaat ini sudah menjalankan kebaktian sendiri. Tak lama kemudian, dirintis pula kebaktian khusus dalam bahasa Hokian.

Belakangan, karena perbedaan bahasa, sekitar 100 warga jemaat mengupayakan kebaktian yang terpisah dengan memakai bahasa Hok Cia. Pada 8 Desember 1949, jemaat ini resmi terbentuk lewat sebuah yayasan yang bernama Chinese Christian Church.

Mereka menyelenggarakan kebaktian di gedung milik Bala Keselamatan di Jl. Gardujati No 89, selama beberapa bulan. Lalu selama 1950-1970 mereka menggunakan gedung milik Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Jl. Kebonjati No. 108.

Berjuang dan berharap anugerah

Masa-masa 1950-1970 itu pula merupakan masa perjuangan jemaat ini dalam anugerah Tuhan. Sejak tahun 1966, jemaat sudah harus bersiap mengupayakan gedung ibadah yang baru, sebab GKP sudah tidak akan meminjamkan lagi gedungnya selepas tahun 1970. Mereka pun mengupayakan pembelian lahan di Gg. Irsad No 10. Lahan itu dapat dibeli pada 1968 dan pembangunannya rampung setelah dua tahun.

BACA JUGA  Pdt. Hendra dan PR Gereja untuk Kolaborasi (2)

Momen itu sebenarnya sangat kritis. Mengingat saat itu ada kebijakan sanering (pemotongan mata uang), yang berimbas tutupnya sejumlah bank. Namun untungnya sebelum itu terjadi dana yang telah terkumpul sudah ditarik dan dipersiapkan untuk pembangunan gereja.

Bukan hanya terkait gedung ibadah, jemaat ini pun harus bergumul terkait tata layanan. Selama sepuluh tahun awal, gereja sangat kekurangan hamba Tuhan, juga belum memiliki tata tertib yang jelas untuk mengelola gereja.

Ada perdebatan yang cukup pelik terkait syarat kemajelisan. Puncak ketidaksepakatan itu pada Maret 1958, sebagian orang berpisah dan membentuk jemaat sendiri (sekarang berkembang menjadi GKIm Ka Im Tong).

Meski demikian, jemaat ini tetap bertahan. Di tahun yang sama selepas perpecahan, jemaat kemudian bergabung dengan GKI Jawa Barat pada 2 Desember 1958. Mereka pun memakai nama GKI Anugerah sejak 7 Juni 1968. Bersama dengan sejumlah gereja yang mempertahankan kebaktian berbahasa Mandarin serta tradisi bahasa Tionghoa lain (seperti jemaat Bungur dan Pinangsia, Jakarta), GKI Anugerah tergabung dalam klasis Priangan, yang dikukuhkan pada 1970 sebagai salah satu dari 4 klasis di GKI Jawa Barat saat itu.

Buah yang langgeng
Selepas memiliki gedung dan mandiri sebagai jemaat, GKI Anugerah tetap masih harus bergumul untuk pengerja. Tak jarang keluarnya pengerja berimbas pula pada keluarnya sebagian jemaat. Contoh yang paling jelas terjadi pada Juli 1976, dimana sebagian jemaat keluar dan membentuk gereja baru, karena keputusan gereja yang menghentikan kerjasama dengan Pdt. Paul Rusli dan istri. Ini kemudian menjadi gereja yang kita kenal sebagai Gereja Kristen Kalam Hidup.

Saat merefleksikan ke belakang, tentu saja ada banyak hal yang bisa dievaluasi. Namun, rasanya tidak perlu disesalkan sebab lewat perjalanan ini, paling tidak ada tiga gereja di pusat kota Bandung yang menyediakan layanan bahasa Mandarin.

BACA JUGA  Bincang-Bincang Pemilu 2019 di GKI Gunung Sahari

GKI Anugerah pun terus bertumbuh. Anugerah tidak sekedar dimaknai sebagai penyertaan Tuhan di masa lalu. Kini sesudah 70 tahun berkembang, gereja semakin berfokus mempersiapkan generasi untuk masa mendatang. Yayasan Pendidikan merupakan layanan yang telah dikembangkan jemaat ini sejak 1984. Demikian pula pola pemuridan di tengah jemaat juga menjadi perhatian penting.

Sebagaimana diungkap Pdt. Cenglyson, GKI Anugerah terus berjalan menghargai anugerah Tuhan. “Tuhan sudah memberkati GKI Anugerah dari jemaat yang kecil, menjadi seperti sekarang. Namun, ini bukanlah sekedar soal gedung atau fasilitas, tapi terlibat dalam membangun kerajaan-Nya, untuk generasi ini dan generasi ke depannya.**arms

Catt: Sebagian catatan sejarah disarikan dari Buku 50 Tahun GKI Anugerah 1999.