Selain mengganti suasana dan tempat, penyegaran dalam Sekolah Minggu Liburan (SML) juga dapat dilakukan dengan mengusung konsep dan tema yang berbeda dari pembinaan sekolah minggu selama ini. SML dapat menjadi pelengkap akan tema yang tidak didapatkan dalam kelas rutin sekolah minggu. Seperti memberi pengalaman untuk berinteraksi dengan teman sebaya atau kelompok masyarakat yang berbeda atau eksplorasi akan pengalaman berbeda.

3. Live in atau kunjungan ke yang berbeda

GKI Cianjur pernah memprogramkan SML-nya dengan melakukan kunjungan ke berbagai rumah ibadah yang ada di sekitar wilayah mereka. Lebih jauh mereka menggelar semi live-in saat sekolah minggu gereja ini berinteraksi setengah hari bersama para santri Pesantren Darunnidzom Al-Istiqlal Cianjur.

Pengalaman yang senada dapat pula diwujudkan ke berbagai isu sosial dan kemanusiaan lainnya. Semisal kunjungan ke rekan-rekan di panti asuhan, orang tua di panti wreda, rekan-rekan difabel, atau beragam kemungkinan lain. Akan semakin baik, jika dimungkinkan, untuk live-in, tinggal beberapa lama di tempat itu untuk berinteraksi lebih jauh.

Bagi anak-anak, momen seperti ini memang layaknya bermain seperti biasa. Namun pengalaman berinteraksi melintasi sekat seperti itu secara alami akan menjadi memori yang baik yang mengingatkan mereka tentang empati dan toleransi.

4. Eksplorasi pengetahuan dan pengalaman

Mengenalkan profesi-profesi yang ada dan populer di masyarakat saat ini serta potensi profesi di masa yang akan datang, juga menjadi pembelajaran yang menarik dan mungkin dilakukan dalam SML. Di GKI Kebonjati misalnya, tahun ini mereka menggelar SML yang bertajuk BontiZania. SML dengan kegiatan utama mengenalkan profesi pada anak dengan mendatangkan langsung profesional di bidangnya, serta memberi pengalaman pada anak dalam mengerjakan profesi itu.

BACA JUGA  Retreat Sekolah Minggu GKI Cicurug

Menurut Pdt. Timothy Setiawan, salah seorang penggagas BontiZania, bentuk ini dipilih guna menjawab tantangan masa kini sekaligus masa mendatang. Profesi yang dipilih pun diupayakan bisa merangkum nilai-nilai yang ingin disampaikan pada anak. Juga mencakup profesi yang sudah ada sejak lama seperti hakim, dokter, penyiar atau yang baru seperti youtuber dan profesi terkait kemajuan teknologi digital.

Respon dari anak, orang tua maupun guru sekolah minggu sangat antusias,” ungkap Pdt. Timothy saat diwawancara minggu lalu. “Di satu sisi format seperti ini mengajarkan hal-hal yang perlu diketahui anak dan orang tua untuk masa depan mereka. Tapi di sisi lain nuansa petualangan dan eksplorasinya memberi pengalaman yang menyenangkan. Anak-anak yang sudah terbiasa dengan banyak permainan di gawai, belakangan lebih sulit untuk diajak dalam format acara yang kurang menantang buat mereka,” lanjutnya.

Pengalaman eksploratif seperti ini kian penting diterapkan sebagai model pembelajaran bagi anak di masa kini. Nilai-nilai karakter yang ingin disampaikan pada anak seperti iman, kedisiplinan, integritas, sinergi, kreativitas, dapat diterjemahkan ke dalam pembelajaran interaktif . **arms