Jangan berbicara dengan orang asing.” Mungkin sebagian dari kita sudah mengenal nasihat tersebut. Orang asing memang sering dianggap sebagai ancaman, sehingga tidak jarang kita mengambil sikap untuk menjauhinya.

Pengalaman bersama dengan orang asing yang seringkali tidak mengenakkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kasus pencurian, perampokan bahkan terorisme, membuat kita menarik kesimpulan bahwa orang asing bisa mengancam bagi kita, sehingga kita mengambil sikap antisipasi bahkan menjaga jarak darinya.

Perasaan ketakutan terhadap kehadiran orang asing inilah yang disebut dengan xenophobia. Kita mendengar misalnya di media sosial beredar foto “Brimob sipit” yang dituduh berasal dari RRT, tapi turut mengamankan aksi 21 Mei 2019 di Jakarta. Berita ini sudah dikonfirmasi sebagai berita hoax.

Dalam kehidupan bergereja hal itu juga pernah terjadi misalnya, Mei tahun lalu, foto seorang pria memakai kaus disebar dan dituduh sebagai penyusup di gereja. Pria berkaus itu dicurigai sebagai teroris. Padahal Gian, nama pria tersebut hanyalah seorang Kristiani yang ingin beribadah. Keterbatasannya dalam pendengaran membuatnya tidak bisa menjawab saat dikonfirmasi.

Dari contoh-contoh itu, muncul sejumlah pertanyaan: Bagaimana seharusnya bersikap terhadap orang asing? Mereka teman atau ancaman? Siapa yang termasuk orang asing itu? Apakah orang asing diartikan sebagai mereka yang tidak kita kenal, atau mereka yang justru karena konsep tertentu diperlakukan secara diskriminatif sehingga disebut asing?

GKI yang meyakini dirinya sebagai mitra Allah yang dipanggil untuk berperan serta melakukan misi Allah di dunia, khususnya di Indonesia ini, memiliki peranan penting untuk menjawab permasalahan di atas. Apalagi permasalahan keberagaman di Indonesia yang akhir-akhir ini diperuncing sedemikian rupa oleh segelintir pihak sehingga menimbulkan polarisasi.

BACA JUGA  Pengampunan yang Radikal

Redefenisi “orang asing”
Definisi paling sederhana seseorang disebut orang asing adalah identitasnya yang tidak dikenali baik itu nama, tempat tinggal, ataupun biodata lainnya. Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatat orang asing sebagai orang lain, orang dari negara lain dan orang yang tidak dikenal.

Namun, jika kita perhatikan saat identitas orang asing ini sudah diketahui, ternyata tidak secara otomatis mengubah status orang asing tersebut menjadi teman. Terdapat sebuah proses pengenalan lebih lanjut yang perlu dilakukan sampai akhirnya kita bisa mengatakan bahwa orang tersebut sudah menjadi teman kita. Bahkan, saat sudah berteman pun, ada aspek-aspek tertentu yang masih terasa asing bagi kita.

Mengenai hal ini, teolog Michele Hershberger dalam kajiannya mengenai hospitalitas, mencatat bahwa orang asing bukan hanya sosok pribadi yang belum pernah dijumpai sebelumnya, melainkan juga sosok pribadi yang malah dikenali atau diketahui, tetapi dianggap sebagai orang luar. Hershberger menegaskan bahkan anggota keluarga atau sahabat orang-orang Kristen dalam jemaat setempat pun dapat menjadi orang-orang asing.

Dalam perspektif ini, kita bisa mengatakan bahwa selalu ada dimensi “keterasingan” di dalam diri orang lain sekalipun orang tersebut adalah orang terdekat kita. Dengan kata lain, identitas orang asing dan sahabat/rekan bisa saling terpilin dan bertautan. Inilah re-definisi pertama tentang orang asing.

Mengutip definisi Hershberger mengenai orang asing di atas, kita dapat melihat ada sebuah perlakuan terhadap seseorang sehingga membuat seseorang tersebut dapat dikategorikan sebagai orang asing atau orang luar (outsider), yakni sebuah pengucilan.

Dengan begitu, identitas sebagai orang asing bukan hanya timbul karena status yang lahir dari orang itu sendiri, misal berasal dari negara lain, kota lain, dan sebagainya, tetapi juga malah tersematkan sebagai dampak dari proses pengucilan ataupun isolasi.

BACA JUGA  Merawat Toleransi dalam Cahaya Teologi Religionum

Dengan kata lain, seseorang menjadi orang asing karena ia diasingkan. Inilah re-definisi kedua tentang orang asing. Tidak dapat disangkal, terdapat sejumlah tradisi dalam masyarakat yang mendiskreditkan atau mengasingkan kelompok orang tertentu.

Misalnya konsep kelaki-lakian yang disematkan pada Allah, seperti Allah yang disebutkan sebagai Bapa, lalu Yesus Kristus yang adalah laki-laki. Ajaran ini kerap kali digunakan oleh segelintir orang Kristen tertentu, untuk mendiskreditkan perempuan. Ajaran lainnya misalnya konsep gambar dan citra Allah (imago Dei) yang hanya diyakini dilekatkan bagi manusia yang normal secara fisik. Hal ini mendiskreditkan kaum disabilitas/difabilitas.

Orang asing, memang ada bahkan, di dalam komunitas gereja sekalipun. Namun secara umum kita juga dapat mendaftarkan beberapa kelompok yang seringkali diasingkan karena perbedaan-perbedaan umur, jenis kelamin, suku, agama, difabel, tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, status sosial.

Orang asing begitu dekat dalam kehidupan umat. Oleh sebab itu, penelusuran terhadap ajaran kekristenan, secara khusus yang dipercayai oleh GKI, terkait isu ini perlu dilakukan…

Disarikan dari Makalah Percakapan Gerejawi Yesus Sahabat Orang Asing oleh Pnt. Ujun Junaedi (GKI Guntur) dalam PMK Ke-66 GKI Klasis Bandung.