Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis asal Perancis, pernah mengatakan begini, “ Manusia dikutuk untuk merdeka, memikul beban seluruh dunia di atas pundaknya; untuk ada, ia bertanggung jawab atas seluruh dunia dan atas dirinya sendiri.”

Bagi Sartre, bukan belenggu yang menjadi persoalan, melainkan kebebasan!

Jean Jacques Rousseau, pemikir Perancis yang lain, mengatakan, “Manusia itu dilahirkan bebas. Tapi di mana pun ia terbelenggu. Ia berpikir bahwa ia adalah tuan atas yang lain. Sesungguhnyalah, ia lebih budak dari mereka.”

Dari dua kutipan itu kita dapat melihat bahwa kebebasan ternyata dapat menjadi penjara bagi manusia. Padahal, manusia sering menjunjung tinggi kebebasan sebagai hak asasi.

Dalam hal kebebasan yang ternyata menjadi penjara bagi manusia, Eka Darmaputera memberikan satu istilah: penjara sosial. Setiap manusia memiliki penjara sosialnya masing-masing.

Yang dimaksud dengan penjara sosial adalah seperangkat aturan dan atau kesepakatan yang dibangun oleh masyarakat di mana kita hidup. Dengan demikian, lanjut Eka, masyarakat menetapkan seperangkat nilai etis yang diterima dan dihidupi sebagai kesepakatan.

Jadi, secara sederhana kita dapat memahami bahwa setiap manusia yang hidup dalam masyarakat tertentu akan diikat (dipenjara) oleh berbagai kesepakatan yang ada. 

Soalnya adalah bahwa tak setiap orang menyadari dan memahami penjara tersebut. Bahkan kadang ada yang menghayati bahwa berbagai kesepakatan itu – apalagi yang sudah berlangsung sangat lama – adalah wahyu dari langit, dan oleh karena itu maka harus dituruti dengan segenap hati tanpa keraguan sedikit pun.

Sikap seperti itu pada gilirannya dapat membawa orang pada sikap tertutup terhadap kenyataan bahwa ada nilai-nilai etis dan atau kesepakatan yang berbeda di masyarakat lain, di luar tempatnya hidup.  Bila sikap ini dibiarkan, maka dapat diduga yang akan segera terjadi adalah benturan. Menganggap yang lain, yang berbeda, itu sebagai salah dan dengan demikian harus dimusnahkan.

BACA JUGA  Mengapa Engkau Menangis? Belajar dari Maria

Kebencian terhadap semua hal yang berbeda, menjadi hal yang tanpa disadari telah ditanamkan dalam benak setiap orang. Beda itu ancaman, jadi harus ditiadakan. Orang hanya bebas di dalam masyarakat yang homogen, pada saat yang sama masyarakat itu menjadi penjara baginya.

Bila kondisi faktual seperti yang ternyata ada di dalam seluruh kehidupan kita, saat ini, di sini, apakah kita memang sudah menjadi orang-orang yang bebas? Dalam masyarakat yang menafikan perbedaan, adakah kebebasan yang sesungguhnya?

William Shakespeare menawarkan alternatif lain dalam menjalani hidup bermasyarakat. Alih-alih melihatnya sebagai penjara, ia melihat bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara. Setiap orang ada di atas panggung yang sama, masing-masing dengan peran yang dipercayakan pada mereka. Setiap peran terkait dengan peran yang lain, namun setiap pemeran punya kebebasan untuk mengekspresikan perannya tanpa harus menafikan peran orang lain.

Panggung memberi ruang lebih terbuka daripada penjara, sekali pun keduanya tetap mensyaratkan keterikatan. Artinya tak pernah ada kebebasan yang sama sekali bebas tanpa keterikatan. Kebebasan saya dibatasi oleh kebebasan orang lain.  Bila tak ada batasan, maka kebebasan akan menjadi kekacauan.

Di atas panggung, setiap pemeran berkuasa atas dirinya sendiri untuk menentukan setiap langkah. Inilah kebebasan yang sesungguhnya, kebebasan yang – dalam tuturan Bonhoeffer – bertanggung jawab. Jadi, setiap orang bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan di dalam masyarakatnya. Makin bertanggung jawab seseorang dalam menjalankan perannya, maka makin bebaslah ia.

Kebebasan seperti itu adalah kebebasan yang diupayakan, bukan diberikan (given). Setiap orang punya pilihan untuk menentukan sikapnya agar peran yang dimainkan dapat dijalankan dengan baik, benar, dan tepat.

Berhadapan dengan pilihan bukanlah perkara yang mudah, walau pun pilihannya mungkin hanya ada dua: ini atau itu. Bila saja pilihan itu semudah membalik telapak tangan sudah barang tentu orang tak perlu tiba pada keputusan etis.

BACA JUGA  [Merdeka dari Kebencian]: Agama di Pentas Seni

Dalam hal ini, sebagai gereja, maka tak ada pilihan lain yang lebih tepat dalam hal keteladanan selain Yesus.

Verne H. Fletcher memaparkan bahwa Yesus adalah manusia bebas. Kebebasan, lanjut Fletcher, adalah salah satu kategori yang paling tepat untuk mencirikan sifat Yesus. Ada 3 kategori kebebasan yang dapat disematkan pada diri Yesus: bebas dari, bebas untuk, dan bebas demi.

Terkait dengan bebas dari kebencian, coba kita lihat sikap Yesus yang bebas dari kebencian.

Pada saat itu, di zaman Yesus hidup, kebencian terhadap sesama dapat muncul melalui keterikatan pada harta milik, status dan gengsi, serta moralitas tertutup.

Kekayaan sering menjadi hal yang dikejar oleh sebagian orang. Dengan kekayaan, orang merasa status dan gengsinya akan naik, melampaui orang lain. Jargon you are what you wear dapat menjadi salah satu ukuran sederhana bagaimana status dan gengsi memegang peranan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada saat yang sama, mereka yang mengejar kekayaan dapat bersikap abai terhadap berbagai aturan moral. Ini memang dua ranah yang berbeda. Sebab dalam hal tatanan moral, orang dapat dengan tegas menarik garis pembeda dan pemisah. Mereka yang ada di kelompok ini biasanya adalah orang-orang yang secara ekonomi berada di tingkat yang lemah namun sangat rigid dalam aturan.

kedua bagian tersebut dapat saja saling memanfaatkan demi tujuan bersama. Hal seperti ini biasanya disebut dengan krematokrasi. Berkelindannya kekuatan urang dan moral untuk meniadakan mereka yang berbeda.

Terhadap semua hal tersebut, Yesus sudah membebaskan dirinya. Yesus tak terikat pada kekayaan, status dan gengsi, serta moralitas tertutup. Dengan demikian, Yesus bebas dari kebencian. Yesus memainkan perannya dengan tepat, baik, dan benar.

BACA JUGA  Pilih Gubernur dan Pilih Semangka

Bukankah karena mengejar kekayaan, status dan gengsi, serta sikap menonjolkan sebagai pihak yang paling benar dapat menjadi pemicu timbulnya kebencian pada mereka yang lain? Oleh karena itu, setiap orang perlu menyadari perannya masing-masing, lalu memainkan setiap peran dengan tepat, baik, dan benar.

Dalam menjalani kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat, bergereja, dan bahkan berkeluarga sikap bebas dari kebencian ini harus terus menerus ditanamkan dalam diri setiap orang, sejak dini.

Orang lain bukanlah musuh yang harus dihancurkan, sebaliknya mereka adalah sesama untuk merayakan hidup. Perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan.

Penulis: Pdt. Jan Calvin Pindo
Ilustrasi: pixabay