Ada sebuah cerita lama dari India, yang mengisahkan seekor tikus yang sangat ketakutan bila melihat kucing. Sang tikus pun pergi berkonsultasi pada penyihir dan meminta si penyihir mengubahnya menjadi seekor kucing. Permintaan itu dikabulkan dan tikus itu pun menjadi kucing.

Namun, saat menjadi kucing, ia justru ketakutan saat melihat seekor anjing. Ia pun kembali pada penyihir dan meminta agar diubah menjadi anjing. Permintaan itu kembali dikabulkan. Tapi setelah menjadi anjing, ia justru sangat takut saat melihat macan. Ia pun datang lagi ke penyihir dan meminta diubah menjadi macan. Lagi-lagi permintaan itu dikabulkan.

Tapi rupanya rasa takut itu justru muncul saat si macan yang dulunya anjing, dulunya kucing dan dulunya tikus itu melihat pemburu. Ia pun kembali pada si penyihir. Kali ini penyihir berang, serta berseru: “Akan kubuat engkau jadi tikus lagi. Sebab sekalipun badanmu macan, nyalimu tetaplah nyali tikus.

Dari cerita ini kita melihat bahwa ketakutan lahir dari kekuatiran kita akan hidup kita sendiri. Tantangan atau ancaman dari luar mungkin kelihatannya menjadi alasan kita untuk takut, namun sesungguhnya ketakutan itu muncul dari dalam. Banyak orang yang tetap merasa takut sekalipun sudah mengusahakan sekian banyak upaya untuk melindungi diri.

Ketakutan itu memang hal yang wajar. Itu bukanlah hal yang harus hilang sama sekali dalam hidup. Tetapi, kita bisa menanggulanginya dengan rasa percaya dan iman kepada Tuhan. Iman itu berbicara pula tentang hubungan, sebab lewatnya kita dibentuk menjadi pribadi yang tahu bahwa kita tidak sendirian. Kita tahu bahwa Tuhanlah yang menjamin hidup kita.

Yesus memberi pesan pada kita agar kita tidak perlu takut akan hari esok, termasuk hari kedatangan-Nya kembali kelak. Sebagai pengikut, semestinya kita memiliki mental yang menyadari penyertaan-Nya dalam hidup kita itu. Kita tidak sendiri dan tidak pernah dibiarkan sendiri. Keyakinan itu bukanlah sekedar tampak dari luar (lewat lagu, doa atau jargon yang kita ucapkan), tapi muncul dari dalam hati kita karena iman dan hubungan.

BACA JUGA  Aku Mau Jadi Cacing!

Bukankah Ia adalah Immanuel? Tapi seberapa berani kita menjalani hidup dengan keyakinan itu…

Penulis: Pdt. Naya Widiawan (GKI Cibadak)
Ilustrasi: familypet