Kita tentu masuh ingat sekitar dua tahun lalu, di masa-masa Pilkada DKI Jakarta, sempat viral sebuah video berisi sejumlah anak kisaran usia SD yang menyerukan ujaran kebencian. Dengan wajah polos mereka lantang melagukan seruan menggantung tokoh. Ada nada kebencian di dalamnya.

Tentunya kita bertanya, “Bagaimana mungkin anak-anak tersebut bisa memiliki kebencian dalam hati mereka, kalau bukan orang dewasa yang menanamkannya?” Kita paham bahwa hal tersebut turut dipengaruhi oleh politik identitas yang dimainkan pihak-pihak tertentu.

Akan tetapi, narasi kebencian muncul bukan hanya dalam rangka hajatan politik. Dalam keseharian pun, narasi kebencian tetap muncul. Di sisi lain, perlu disadari juga bahwa kebencian itu tidak melulu dialami oleh kaum minoritas. Kaum minoritas yang tertindas, bisa juga memiliki kebencian terhadap tirani mayoritas.

Lantas, bagaimana kita memaknai kemunculan kebencian di tengah-tengah masyarakat yang plural ini? Bagaimana Kitab Suci – dalam hal ini Alkitab, meneropong soal kebencian?

Kata ‘benci’ dalam Alkitab diterjemahkan dari kata kerja Ibrani: satam dan sane, dan dari kata kerja Yunani: miseo. Ketiga kata ini memiliki nuansa menunjukkan permusuhan yang hebat juga perasaan antipati yang berkepanjangan dan disertai niat jahat.

Kebencian dapat menjadi emosi kuat yang mendorong seseorang untuk berupaya mencelakai seseorang yang dibenci. Sebaliknya, kebencian juga dapat berwujud rasa jijik sehingga menjauhi orang yang dibenci, meski tanpa niat mencelakai.

Alkitab secara umum bersikap negatif terhadap rasa benci. Misalnya dalam Imamat 19:17, “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.

Begitu juga dalam Perjanjian Baru, semisal dalam 1 Yohanes 2:9-11, “Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.

BACA JUGA  [Merdeka dari Kebencian]: Toleransi dari Gereja yang Didemo

Mengapa kebencian dipandang negatif oleh Alkitab? Sejatinya kebencian merupakan dosa di dalam hati, karena merupakan racun atau akar pahit bagi jiwa manusia. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita agar kita jangan menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar tidak tumbuh akar yang pahit.

Kebencian pun bisa bermuara pada tindak kekerasan. Kebencian dapat mengaburkan lensa hati, sehingga aneka kebaikan dalam diri sesama tidak lagi terlihat, tetapi juga menumpulkan nalar, sehingga bisa memunculkan tindakan purba dalam diri manusia.

Dalam pengalaman kehidupan kita, kebencian memang terkait erat dengan upaya dan tindakan untuk melakukan kekerasan terhadap orang yang dibenci. Peristiwa genosida di berbagai tempat di dunia, umumnya berawal dari kebencian yang muncul dalam diri pelaku. Lebih lanjut, seseorang yang membenci sesamanya dipersamakan dengan pembunuh manusia.

Inilah mengapa rasul Yohanes menulis, “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.” (1 Yohanes 3:15).

Hal yang menarik adalah bahwa sekalipun Alkitab secara umum bersikap negatif terhadap kebencian, namun para rabi Yahudi mengajarkan murid-muridnya untuk membenci musuh (bnd. Mat. 5:43). Terhadap situasi ini, Yesus mengkritik dengan keras pengajaran untuk membenci musuh tersebut, seraya menegaskan tindakan kebalikannya, yakni, “Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (lih. Mat. 5:44).

Dasar dari pengajaran Yesus ini adalah bahwa Allah tetap menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, juga menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Mat. 5:45). Kata kunci ‘kasih’ menjadi penting untuk mengkritisi sekaligus mengikis kebencian dalam kehidupan kita.

BACA JUGA  Mendaki dan Mengenal Gunung Sampah

Masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang religius. Hal ini ditandai dengan penuhnya rumah-rumah ibadah pada hari-hari ibadah terlebih pada saat hari raya. Juga maraknya atribut keagamaan, baik yang dikenakan sebagai asesoris pakaian sehari-hari maupun yang ditempel di kaca mobil. Artinya, masyarakat Indonesia, termasuk orang-orang Kristen di dalamnya, pasti mengaku sebagai pihak yang mengasihi Allah.

Di sinilah menariknya! Jikalau kita mengaku sebagai orang yang mengasihi Allah (yang tidak kelihatan), maka kita harus sungguh-sungguh mengasihi sesama kita yang dilihatnya.

Penulis: Pdt. Natanael Setiadi (Sekretaris BP Gerakan Kebangsaan Indonesia)