Menjadi kawan sekerja artinya dua pihak bersepakat mengerjakan sesuatu. Dalam kesepakatan itu, jelas apa yang mau dikerjakan bersama, tujuan, target yang mau dicapai. Juga jelas tugas dan atau kontribusi masing-masing pihak, hak dan kewajiban bagi tiap pihak yang bersepakat, serta sanksi bagi pihak yang melanggar atau tidak melakukan apa yang sudah disepakati bersama sebagai kawan sekerja.

Pihak yang mau bermitra tentu memilih rekan mitranya. Pilihan ditentukan pada kemampuan untuk memenuhi maksud dia bermitra. Dengan demikian kedua pihak yang bersepakat itu menjadi sama derajat, sejajar. Menjadi kawan sekerja Allah artinya yang bersepakat bekerja sama adalah Allah di satu pihak dan di pihak lain manusia.

Allah yang berinisiatif menjadikan kita kawan sekerja-Nya. Jelas juga yang mau dikerjakan yaitu memberitakan Kerajaan Allah sudah dekat. Kerajaan Allah itu dapat diartikan keselamatan/hidup kekal yang dari Allah buat manusia dan semesta ini (menurut 1 Petrus 2: 9 dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib).

Perhatikanlah 1 Petrus 2: 9 di situ jelas juga dituliskan kualifikasi manusia yang diajak bermitra, yaitu bangsa yang terpilih, imamat rajani, kudus, kepunyaan Allah sendiri. Jadi jelas kualifikasi manusia yang dijadikan kawan sekerja oleh Allah.

Namun, apakah benar kita ini kudus sehingga sejajar, sederajat dengan Allah? Kita menjadi kudus, bangsa terpilih, karena Allah yang menguduskan kita. Allah yang sudah menunjukkan kesetiaan-Nya pada ikatan perjanjian kekal.

Allah mengerjakan bagian-Nya sebagai Allah yang menyelamatkan dengan menyerahkan Yesus Kristus mati bagi kita, memberkati dan manusia mengerjakan bagian kita sebagai umat-Nya antara lain dengan setia/taat ikut mengerjakan misi-Nya bagi dunia ini. Allah pula yang memberi kemampuan kepada kita untuk menjadi kawan sekerja-Nya (Filipi 2: 13 “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya”).

BACA JUGA  Memahami Ulang Misi Gereja

Dengan demikian kita patut amat bersyukur dijadikan kawan sekerja Allah sekaligus berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi mitra yang dapat dipercaya.

Menjadi mitra Allah bukan melulu dalam bentuk pelayanan di gereja, tetapi juga dalam seluruh aktivitas (pikiran, tindakan) dimana pun di sepanjang hidup kita di dunia ini. Artinya apapun yang kita pikirkan dan kerjakan haruslah dalam kerangka mengerjakan misi Allah, agar semua orang siap ketika Tuhan datang kembali (bndk Lukas 10: 1, 11).

Perlu kita sadari bawa Allah mau bermitra dengan kita bukan karena Dia tidak mampu mengerjakan misi-Nya sendiri, tetapi Dia mau mengangkat derajat kita manusia yang dikasihi-Nya dan ciptaan paling mulia. Mari kita berfokus mengerjakan bagian kita sebagai mitra-Nya. Mitra yang dapat dipercaya.

Penulis: Pdt. Dianawati Sarah Juwanda (GKI Nurdin)