Saya akan selalu ingat pengalaman saat menjadi mahasiswa di Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Sejak semester awal saya ikut bergabung di Teater Topeng, unit kegiatan mahasiswa yang terbilang sering mementaskan teater dan drama. Sejak dulu, saya memang suka dengan seni pertunjukan, tapi pengalaman unik di unit kegiatan ini punya pembelajaran lain.

Satu ketika kami akan mementaskan suatu drama dari Bali. Temanya terbilang umum, namun cukup religius, yang lekat dengan pemahaman agama Hindu. Untuk dapat mementaskannya dengan baik, kami pun mempelajari budaya dan agama Hindu di Bali. Berhubung anggota teater kebanyakan beragama Kristen dan Islam, kami mencari tahu pada rekan-rekan yang Hindu. Mereka sangat baik bahkan mempertemukan kami dengan orang yang cukup memahami hal tersebut.

Kami pun menjadi tahu sedikit-banyak hal terkait religiusitas masyarakat Hindu. Bagaimana rasanya energi dari tarian kecak, mengapa orang Hindu menganggap hewan sapi itu suci dan belajar mengerti kenapa orang Hindu beribadah seperti ini.

Hanya dari pentas ini, kami sudah mengetahui dan mengenal satu agama. Kami tidak hanya bermain drama. Kami mempelajari, mengenal dan mengerti agama lain. Bahkan belajar memahami dan berempati. Kami tidak perlu pindah agama hanya karena memerankan tokoh beragama lain. Dengan mengenal agama lain kami pun dapat mengerti dan tidak ada lagi salah paham yang akan membuat perpecahan. Kami tetap bersatu dan kami tetap saling bekerja sama demi suatu pentas.

Dari sana saya belajar agama dan seni saling berhubungan. Pun bisa jadi ide baru untuk mengembangkan toleransi. Seni dapat menambah muatan lain untuk mendorong kerukunan antar iman yang majemuk di negeri kita ini.

Yang ada di benak saya begini, umumnya untuk mengembangkan toleransi kita diminta belajar tentang agama lain, juga bergaul dengan rekan yang berbeda. Tapi, kita mungkin tidak selalu bisa bertemu dengan yang berbeda, seperti kami di kampus mungkin jarang bertemu rekan yang Hindu. Hal itu mungkin bisa diperkaya lewat belajar dari literatur. Tapi, itu hanya berupa pengetahuan. Perlu ditambah rasa dan penghayatan sehingga bisa melahirkan empati. Tepat di situlah seni bisa berperan.

BACA JUGA  PMK Ke-34 Klasis Jakarta Selatan

Mungkin ini jarang terdengar tapi ini akan nyata kalau katakanlah drama dengan warna religius Kristiani dimainkan oleh pemeran yang Muslim. Sebagai seniman, selayaknya tidak masalah, bahkan jadi tantangan tersendiri. Selayaknya pun semua pemain senang bisa membantu untuk membuat drama tersebut menjadi sukses.

Tidak ada yang canggung ketika kita memainkan peran dalam suatu drama. Tujuan kita pun untuk mengeskpresikan apa yang ada dalam seni tubuh kita. Kita tidak memandang dia berhijab, menggunakan kalung salib, bermata sipit atau mereka yang menanggap sapi itu hewan suci. Karena kita memiliki satu tujuan yaitu mengekspresikan seni.

Walhasil kita mungkin bisa saling membantu dan saling mengerti Kita pun tidak merasa harus anti dengan bahasa religius dari rekan kita yang berbeda. Seni tidak sekedar memberikan pengetahuan dan pengenalan. Ia mendorong pada kita empati.

Saya rindu sekali semakin banyak lagu, naskah drama, tari, atau seni pertunjukkan lain yang bernuansa religius tertentu namun dimainkan lintas agama. Ini menjadi sarana kita untuk saling berempati. Saat ruang perjumpaan agak tertutup, diskusi pengetahuan sudah lebih dulu mentok, seni mungkin bisa jadi alternatif.

Penulis: Shadam Sugihen, jemaat GKP Cirebon, pernah berkuliah di Universitas Kristen Maranatha Bandung