Jangan terlalu menonjol di kampus. Nanti orang iri, nanti kamu diapa-apain. Inget kita orang Tionghoa harus tahu bawa diri.” Demikian petuah Bapak ketika saya akan meneruskan studi di universitas negeri.

Waktu itu tahun 2007. Menurut saya zaman sudah berubah. Era Orde Baru, di mana orang Tionghoa didiskriminasi sudah berlalu. Tetapi tidak mudah bagi Bapak saya untuk lepas dari pola pikir yang sudah terbangun puluhan tahun: “Orang Indonesia tidak suka dengan keturunan Tionghoa meski sama-sama Warga Negara Indonesia.

Walhasil, menjadi orang Tionghoa di Indonesia, menurut Bapak, harus “tahu diri”. Asal bisa sekolah, dapat pekerjaan dan berkeluarga, sudah cukup. Urusan negara, politik, sebaiknya orang Tionghoa menjaga jarak. Jika tidak, nanti kita kena getahnya.

Saya dibesarkan dengan alam berpikir, prasangka, semacam itu. Tapi di tahun 2007 saya memutuskan untuk menerobos prasangka terhadap saudara sebangsa lainnya dengan masuk ke universitas negeri – dan di sana, berbagai prasangka saya pun diporakporandakan! Saya tidak mengalami diskriminasi seperti yang dikhawatirkan. Saya menemukan teman-teman yang berasal dari suku dan agama lain sangat terbuka dan toleran.

Lucunya, pengalaman bergaul dengan mereka membuka tabir prasangka yang selama ini juga ada di benak mereka. “Selama ini kita kira orang Tionghoa eksklusif, mana mau bergaul dengan kita?”, “Kirain orang Tionghoa cuma demen ngurusin duit, mana peduli sama urusan keadilan?” Nah!

Di titik itu saya sadar ternyata kita semua memiliki prasangka satu sama lain, khususnya terhadap mereka yang berbeda entah suku, agama, atau ras-nya. Prasangka terbentuk dari rupa-rupa informasi yang kita terima. Namun, prasangka belum tentu benar. Masih harus melalui perjalanan pembuktian sampai kemudian terbukti kebenarannya. Celakanya, banyak orang lekas memegang prasangka sebagai kebenaran, tanpa mau menjalani petualangan pembuktiannya!

BACA JUGA  [Merdeka dari Kebencian]: Doa Biarawati untuk Anak yang Dijatuhi Hukuman Mati

Sebagai bangsa yang majemuk, prasangka bukan barang baru di Indonesia. Alasan tumbuhnya prasangka sebetulnya sederhana: orang cenderung mengambil jarak terhadap apa yang berbeda. Dalam jarak itu ada ruang kosong yang menunggu untuk diisi. Idealnya, ruang itu diisi dengan pengalaman perjumpaan langsung. Namun, yang kerap terjadi ia diisi oleh informasi-informasi yang kita terima dari sumber kedua.

Era teknologi informasi seperti sekarang ini dapat membuat kondisinya lebih buruk. Kita dibanjiri informasi dari berbagai sumber yang terkadang tidak bisa kita buktikan kesahihannya. “Ruang kosong” itu pun kemudian ditulis dengan berbagai macam berita negatif dan stigma. Ini kemudian bisa jadi lahan subur untuk berkembangnya rasa takut atau bahkan benci. Prasangka berubah menjadi ‘kebenaran’ dalam waktu singkat tanpa melewati proses pembuktian.  

Tak aneh jika sekarang kita dapat dengan mudah menemukan seruan kebencian terhadap kelompok yang berbeda. Padahal tidak pernah bertemu, berinteraksi, atau bergaul dengan kelompok yang diprasangkakan.

Jika ingin maju, saya pikir ini saatnya untuk kita sama-sama porak-porandakan prasangka! Sebagai bangsa majemuk, kita butuh mengolah keragaman menjadi kekuatan, bukan kebencian. Tanpa mengalahkan prasangka, kita akan selalu terbata-bata mengeja persatuan. Alih-alih menggabungkan kekuatan untuk memajukan bangsa, yang terjadi justru kita terjebak untuk saling jegal dan saling bungkam.

Untuk memporak-porandakan prasangka, “ruang-ruang kosong” di antara kelompok-kelompok yang berbeda harus diganti “ruang-ruang perjumpaan”. Pertama-tama kita perlu menyingkirkan dulu setiap pola pikir yang melihat mereka yang berbeda sebagai lawan atau ancaman. Lihatlah mereka sebagai sesama anak bangsa, manusia Indonesia yang dirahmati Tuhan kesempatan untuk bedampingan dengan kita di negeri ini.

Lalu cobalah keluar dari kungkungan prasangka yang kita miliki. Jika selama ini terbiasa bergaul dengan orang-orang yang memiliki latar belakang suku, agama, dan ras yang sama, cobalah untuk menjalin pertemanan dengan yang memiliki latar belakang lain.

BACA JUGA  Kebencian sebagai Praktek Dehumanisasi!

Selain usaha pribadi, ini perlu dilakukan secara kolektif. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan lembaga agama, dapat membuat sebanyak-banyaknya ruang-perjumpaan sebagai tempat di mana prasangka-prasangka diporak-porandakan. Jangan biarkan ruang-ruang kosong diisi secara tidak bertanggungjawab oleh orang-orang yang berpikiran sempit. Sebarkan kisah-kisah perjumpaan, robohnya prasangka, serukan indahnya keragaman secara terus menerus.

Bangsa ini terlalu indah untuk dilukis dengan satu warna. Di momen kemerdekaan tahun ini, mari satukan tekad untuk memadu-padankan beragam warna yang ada di Indonesia menjadi satu mahakarya bersama. Saatnya kita merdeka dari prasangka. Lewat ruang-ruang perjumpaan, mari kita kenakan semangat untuk bertualang mengenal satu sama lain dan bersama-sama membangun bangsa!

Penulis: Viona Wijaya (Mahasiswi Study S2 di The Australian National University)