Co, kalau mau ke gereja kabarin, ntar kita pada gantian nganterinnya.” Kalimat yang hampir tiap minggu saya dengar dari teman-teman satu kelompok.

Kami dipertemukan pada kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa Sepahat, Kabupaten Bengkalis, Riau yang diadakan oleh universitas tempat kami kuliah. Satu desa diisi empat kelompok beranggotakan 14 orang dengan latar belakang jurusan yang berbeda.

Setelah saling mengenal kami baru mengetahui bahwa latar belakang suku dan agama kami juga berbeda-beda. Minang, Melayu, Batak, Jawa, Sunda dan bahkan Tionghoa. Islam, Kristen dan Buddha.

KKN tahun 2014 pada waktu itu diadakan ketika bulan puasa. Bisa dikatakan teman-teman kami yang beragama Muslim hampir setiap hari ke mesjid. Kegiatan semacam masak dan buka puasa bersama sering diadakan di mesjid agar dapat berbaur dengan warga desa.

Disini saya belajar banyak untuk mengenal dan open minded terhadap apapun yang berbeda dengan saya. Kekhawatiran seperti: apakah saya yang minoritas akan diterima, apakah akan ada yang mau berteman dekat dengan saya, apakah mereka mau makan makanan yang saya masak, sering bermunculan di pikiran saya yang pada akhirnya membuat saya sedikit ragu untuk memulai bersosialisasi.

Namun seiring waktu, kita saling mengenal satu sama lain. Kekhawatiran yang sempat memenuhi pikiran saya mulai terkikis oleh sikap manis dan ramah teman-teman satu kelompok.

Perlahan saya menawarkan diri untuk ikut ke mesjid, membantu koordinasi dengan penduduk lokal yang hampir keseluruhan beragama Islam, agar kegiatan yang kami programkan dapat berjalan lancar, buka bersama di mesjid, sampai menemani teman-teman mengaji bersama di mesjid.

Hal-hal seperti ini sangat jarang saya rasakan, terlebih teman-teman satu kelompok menerima keberadaan saya dengan baik, sehingga saya sangat menikmatinya, merasakan keindahan perbedaan, membantu saya mampu menjadi pribadi yang menghargai.

BACA JUGA  Kenapa Takut Menggeluti Sosial Politik?

Demikian pula mereka, tak jarang bergantian menawarkan untuk mengantar saya beribadah ke gereja. Jarak dari desa kami ke gereja sangat jauh dan harus masuk kampung terlebih dahulu. Namun niat mereka untuk menjamin saya sampai dengan selamat supaya bisa beribadah, yang hanya sekali dalam seminggu, sangat patut diapresiasi.

Tak hanya itu, mereka bahkan menunggu saya sampai selesai beribadah. Bagaimana mungkin saya masih menyimpan persepsi negatif terhadap perbedaan? Sejak saat itu pikiran saya sangat terbuka terhadap ketidaksamaan latar belakang, baik suku, ras dan agama.

Di era millenial dan serba teknologi seperti saat ini, marak sekali berita atau kekacauan keadaan akibat hoax terkait perbedaan suku, agama, ras, golongan juga pilihan politik pasca pilpres. Di dalamnya banyak sekali masyarakat yang menyerap langsung informasi yang beredar. Masyarakat banyak tidak memilah, mengevaluasi dan mengobservasi berita yang diserap dan pada akhirnya memicu sikap intoleran yang dapat merusak kerukunan umat beragama.

Media provokator pandai membaca situasi dan menebak level emosi masyarakat, sehingga menaikkan berita yang menurut saya sangat sensitif untuk dibagikan. Menyedihkannya lagi, informasi-informasi tersebut cepat menyebar dan mampu menimbulkan emosi serta kericuhan di tengah-tengah masyarakat.

Hal-hal seperti ini sangat saya sayangkan. Masyarakat seharusnya dapat hidup berdampingan, rukun, saling menghormati dan toleransi. Seperti apa yang saya alami semasa KKN bersama teman-teman satu kelompok, yang bisa hidup berdampingan, rukun, saling mengisi ranah kehidupan selama berada di desa itu.

Seperti yang kita ketahui bahwa bangsa Indonesia dipersatukan oleh pancasila sebagai pedoman berbangsa dan bernegara dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu dalam kesatuan negara Indonesia. Untuk itulah kita sebagai rakyat Indonesia sepatutnya dapat mengayomi dasar negara Indonesia tersebut. 

BACA JUGA  [Merdeka dari Kebencian]: Toleransi dari Gereja yang Didemo

Konflik yang bersinggungan dengan agama memang cukup banyak terjadi saat ini dan sangat sulit ditemukan solusinya. Namun jika dilakukan upaya sejak dini, dengan menciptakan dan mengembangkan budaya toleransi, dewasa dalam menyikapi perbedaan, maka harmoni dalam masyarakat lambat laun dapat tercipta dan terjaga.

Untuk membangun kerukunan tersebut diperlukan andil dari berbagai pihak, mulai dari Pemerintah, media, partisipasi setiap penganut agama, dan terutama kita sebagai masyarakat yang setiap hari berbaur dalam aktivitas keseharian.

Sejatinya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk dan makhluk sosial perlu hidup damai dan berdampingan dengan orang lain. Jika kondisi tersebut sudah dapat berjalan dengan baik, maka tali persaudaraan yang erat serta kerukunan dapat tercipta di negari kita tercinta.

Penulis: Citra P.