Doa boleh jadi sebuah bahasa universal. Dengan cara apapun doa tersebut dipanjatkan, Tuhan mendengarkan. Saya masih ingat ketika saya belajar di Universitas Islam di New Delhi, India, belasan tahun silam. Saat itu, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun dijatuhi hukuman mati oleh negara Pakistan karena dia mencorat-coret dinding masjid.

Berbagai reaksi muncul atas keputusan itu. Saya ingat betul saat itu bulan Ramadhan. Pagi hari beberapa mahasiswa datang ke rumah saya dan minta tolong saya untuk memberi kepada mereka kutipan dari Kitab Suci mengenai perdamaian. Sore itu, saya diundang oleh beberapa ibu Muslim ke masjid untuk berdoa bersama.

Mereka tahu saya Katolik, tetapi mereka tidak pernah mempermasalahkan itu. Sebelum sholat maghrib, saya bersama beberapa ibu membaca beberapa kutipan dari Alkitab dan Al-Quran mengenai perdamaian dan pengampunan. Kami menjadikannya doa.

Setelah sholat maghrib selesai, kami berdoa bersama. Banyak doa kami panjatkan untuk anak yang akan dieksekusi tersebut. Kami berharap ada mujizat yang membatalkan eksekusi itu, meski kami tahu bahwa eksekusi pasti akan terjadi. Anak yang didakwa itu beragama Kristen. Tapi hal itu tidak menghentikan ibu-ibu Muslim untuk memanjatkan doa baginya.

Saya ingat sekali ketika itu mereka berkata kepada saya:
Bagaimanapun kami juga seorang ibu. Kami ingat dan kami mengerti bagaimana perasaan ibunya.

Selepas maghrib, kami berkumpul dan menyalakan radio. Kami tahu eksekusi itu pasti akan dilaksanakan. Tetapi kami tetap saja tidak bisa tidak bersikap tidak peduli. Kami ingin tahu bagaimana perkembangan terakhir kasusnya. Seandainya kami punya kuasa lebih, kami mau eksekusi tidak terjadi.

Suasana hening. Hanya ada suara penyiar. Kecemasan lekat meliputi ruangan. Seluruh konsentrasi terpusat pada apa yang disampaikan penyiar. Tidak ada yang berani bicara. Tiba-tiba saja, penyiar berkata, “Perkembangan terbaru yang mengejutkan untuk kasus anak 12 tahun yang dijatuhi hukuman mati. Pemerintah mencabut hukuman matinya, dia kini sudah dibebaskan.

BACA JUGA  Makna Doa

Mendengar itu, sontak seluruh ruangan bersorak gembira. Ini sebuah mujizat! Putusan hukuman mati terhadap anak tersebut telah dicabut, hukuman mati terhadap anak itu dibatalkan, dan dia dibebaskan. Kami semua larut dalam euforia. Euforia yang melintasi batas agama, suku, latar belakang apapun. Kami sangat bersyukur doa kami dikabulkan Tuhan. Saya ingat sekali ibu-ibu tersebut berkata, “Kami sangat bersyukur. Ini doa kita semua, dan Tuhan mengabulkannya.

Dari pengalaman itu saya menyaksikan betul bagaimana intensi ibu-ibu Muslim tersebut terhadap anak itu. Anak 12 tahun beragama Kristen itu bersalah karena telah mencorat-coret dinding masjid, tetapi bagaimanapun dia tetap seorang anak. Kenyataan itulah yang membuat mereka tidak bisa menghentikan empatinya dan justru mendoakan anak tersebut.

Pengalaman itu begitu memperkuat iman saya sampai sekarang. Saya percaya selama itu tulus, melalui cara apapun doa itu dipanjatkan, Tuhan mendengarkan. Tidak peduli agama, suku, ataupun negaranya. Doa bisa jadi bahasa paling universal untuk menyatukan kita.

Penulis:
Sr Gerardette Philips, RSCJ
Judul Asli: Bahasa Universal

Biarawati dari Kongregasi Hati Kudus Yesus (RSCJ). Berasal dari India, Sr. Geraedette ada di Indonesia sejak tahun 2000. Sr. Gera mengajar di Universitas Parahyangan, Bandung dan The Islamic College, Jakarta.