Dalam salah satu diskusi tentang Papua bersama aktifis dan intelektual Papua muncul wacana yang mengejutkan yaitu bahwa masyarakat Papua tidak menyukai TNI. Ada banyak sebabnya. Salah satunya adalah karena masyarakat Papua merasakan terlalu seringnya pendekatan kekerasan terhadap masyarakat Papua daripada pendekatan dialog.

Masyarakat Papua tidak melihat TNI sebagai pelindung tetapi sebagai ancaman. Ini sangat menyedihkan karena TNI selalu dikenal sebagai bagian dari rakyat. Oleh karena itu, tugas terbesar pemerintah saat ini adalah meyakinkan masyarakat Papua bahwa TNI adalah pelindung, bukan ancaman bagi mereka. Artinya pemerintah membutuhkan pendekatan baru terhadap Papua. Apa itu?

Persoalan apa pun di Papua harus diselesaikan dengan hati yang dingin, pikiran yang jernih dan dialog yang setara, bukan dengan kekerasan! Bukan juga dengan anarkisme! Pemerintah harus lebih banyak mendengar keluhan dan rintihan orang Papua.

Gejolak yang terjadi belakangan ini karena komunikasi yang mandek. Komunikasi harus dibangun kembali. Pemerintah harus memanfaatkan gereja, satu-satunya institusi yang masih dipercaya orang Papua. Dalam sejarah gerejalah yang meyakinkan orang Papua untuk berintegrasi dalam Indonesia. Gereja bisa menjadi fasilitator dialog antara masyarakat Papua dan Pemerintah demi penyelesaian yang baik dan adil secara menyeluruh, kini dan ke depan.

Pendekatan kekerasan dan senjata di Papua harus dihentikan karena pendekatan ini menciptakan rasa ketertindasan dan ketidakadilan bagi orang Papua. Kekerasan fisik dan verbal membuat orang Papua merasa dianaktirikan, tetapi bahkan merasa dimarjinalkan kemanusiaannya. Pendekatan kekerasan dan keamanan hanya memicu militansi orang Papua untuk melakukan pembalasan dendam. Ia menciptakan lingkaran kekerasan yang mengorbankan kemanusiaan kita bersama.

Kekerasan harus dihentikan karena ia justru membulatkan tekad orang Papua untuk melepaskan diri dari Indonesia. Dan yang terutama, pendekatan kekerasan justru meruntuhkan citra Indonesia yang selama ini dikenal sebagai bangsa dan negara demokratis yang Pancasilais.

BACA JUGA  Paskah yang Mengusir

Tugas dan tanggungjawab kita adalah secepatnya membangun dialog yang adil dan setara demi kebaikan semua. Ini harus dilakukan sekarang! Sebelum terlambat! Now or Never!

Penulis: Pdt. Dr. Albertus Patty
Ilustrasi: SuaraWamena