Jika kita memperhatikan konsep Allah dalam Pengakuan Iman Rasuli, Nicea-Konstantinopel dan Athanasius umumnya memberi kesan bahwa kata “Allah” merujuk kepada semacam pribadi yang terpisah dari dunia. Karena “Keberadaan Agung” itu tak ada di sini melainkan di tempat lain, “di luar sana”, melampaui dunia; maka Allah bukanlah realitas yang dapat dialami. Cara menalar ini disebut “teisme supranatural”.

Bentuk teisme ini terasa akrab bagi banyak orang Kristiani. Dalam kalimat pembuka doa, “Bapa kami yang ada di surga,” terasa dan terbayang betul, Sang Bapa itu berada jauh di sana. Namun, manakala ini dijadikan konsep tentang Allah, ia dapat menjadi tak adekuat. Konsep ini baru separuh dari Allah Alkitab. Ia bicara hanya tentang Allah yang transenden, Allah yang di seberang sana. Allah berada dalam terang yang tak terhampiri.

Di pihak lain, Alkitab juga bicara tentang kehadiran Allah di mana-mana dan di dalam segala sesuatu. Ini paling ringkas diungkapkan Paulus di Areopagus: “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis. 17:28). Bahasa ini menegaskan bahwa kita hidup di dalam Allah, kita bergerak di dalam Allah dan kita ada di dalam Allah. Namun banyak kali, kita seperti ikan yang mencari di mana adanya lautan, sementara tanpa disadarinya ia hidup di dalam lautan itu.

Ungkapan sejajar tercatat dalam Mzm.139. Pemazmur bertanya,“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?” Jawabannya adalah tanpa peduli ke manapun pemazmur pergi, Allah ada di sana.

Sebagian besar dari kita pernah mendengar mengenai ini: Allah di mana-mana, Allah Mahahadir (omnipresent). Ungkapan teknisnya, Allah imanen. Allah tinggal di dalam segala sesuatu dan segala sesuatu tinggal di dalam Allah. Secara konsep teologis diistilahkan panenteisme.

BACA JUGA  Murid-murid Kristus yang Taat

Kaum Kristiani sudah berabad-abad menghayati Allah adalah transenden sekaligus immanen; melampaui dunia semesta sekaligus hadir di dalamnya.

Seperti kita rasakan tidaklah penting orang tahu atau tidak tentang istilah “teisme supranatural” dan “panenteisme.” Tetapi penting bahwa kedua penalaran itu mengungkapkan “gambar dan rupa Allah Alkitab” yang seharusnya dihayati dan dinalar oleh manusia. Keduanya tidak bertentangan, melainkan paradoks.

Marcus J. Borg mengamati bahwa dalam beberapa abad terakhir banyak orang Kristiani berpikir tentang Allah yang hanya transenden. Perubahan ini disebabkan oleh pencerahan abad ke-16. Sebelum itu orang Kristiani menghayati dan menalar tentang Allah yang bukan saja melampaui dunia, tetapi juga hadir di dunia.

Abad pencerahan memperkenalkan cara berpikir baru tentang dunia-semesta, sebagai sistem materi dan energi tertutup yang beroperasi menurut hukum alam. Akibatnya adalah Pencerahan menyingkirkan Allah dari dunia-semesta; dunia didesakralisasi. Pengertian bahwa Allah “di mana-mana”, Allah immanen, dipudarkan.

Bagi teisme supranatural, Allah tak ada di sini. Oleh karena itu, Ia tak dapat dialami atau dijumpai, kecuali dalam terobosan supranatural alias mujizat. Itu sebabnya mengapa begitu banyak orang Kristiani merindukan terjadinya mujizat. Sebab Allah ini dipercaya, tapi tak dapat dijumpai. Kita hanya akan mengenal dan menjumpai Allah kalau kita mati. Selama hidup di dunia ini kita hanya dapat percaya saja. Motonya terkenal sekali “nanti di sana.

Sedangkan bagi Panenteisme, Allah ada di sini, di sekeliling dan di antara kita, sekalipun Allah melebihi segala sesuatu. Nalar ini membuka peluang berjumpa dengan Allah, mengalami Allah. Dan motonya menjadi “kini dan di sini.”

Dalam GKI diajarkan keduanya: nanti di sana dan kini di sini. GKI menerima paradoks itu secara utuh. GKI tidak berkecenderungan membuang “nanti di sana” karena GKI menghargai warisan spiritualnya, tetapi juga tidak bersikeras hanya “kini dan di sini”. GKI tidak terjebak pada pencerahan (enlightenment) abad ke-16 saja, karena sadar dirinya kini sudah berada di abad ke-21.

BACA JUGA  Iman Kepada Allah yang Hidup

Disarikan dari: Penghayatan dan Penaralan akan Allah Alkitab oleh alm. Pdt. (Em) Kuntadi Sumadikarya dalam Tunas Zaitun (buku peringatan emeritasi Pdt. Nurhayati Girsang – GKI Gunung Sahari).

Ilustrasi: Gimondio