Salah satu karya pelayanan Yesus adalah menjadi sahabat bagi orang yang diasingkan. Kitab-kitab Injil menyatakan bahwa Yesus adalah sahabat bagi orang-orang yang diasingkan oleh masyarakat dan penguasa. Yang dimaksud orang yang diasingkan adalah orang yang terampas hak hidup sosialnya. Menjadi sahabat berarti bertindak hadir dalam keprihatinan dan sikap belarasa.

Kita dapat merefleksikan Yesus sebagai sosok yang mau berjumpa dengan orang-orang asing, bahkan menjalin relasi persahabatan dengan mereka. Misalnya Yesus yang duduk makan dengan pemungut cukai, bercakap-cakap dengan perempuan Samaria, menunjukkan bahwa Yesus tidak menjauhi mereka. Sikap ini kemudian dilakukan juga oleh para rasul. Petrus misalnya yang membaptis Kornelius, seorang perwira Roma.

Kartika Diredja, dalam tulisannya, Yesus, Sang Orang Asing menegaskan betapa Yesus dan Allah Bapa memiliki hubungan yang begitu unik, sekaligus begitu asing bagi dunia. Diredja menegaskan bahwa dalam Injil Yohanes, dimensi keilahian Yesus mendapat penekanan yang begitu kuat jika dibandingkan Injil Matius dan Lukas yang lebih kental mengisahkan bagaimana Yesus lahir dan juga silsilah-Nya.

Meksipun begitu, Diredja menegaskan bahwa melalui beberapa nama asing seperti Rahab dan Rut di dalam silsilah Yesus, cukup untuk mengatakan bahwa Yesus pun memiliki status keterasingan. Dengan kata lain, Yesus memiliki dimensi keterasingan, baik dalam keilahian-Nya, maupun dalam kemanusiaan-Nya.

Lebih lanjut, Yesus sendiri menegaskan bahwa diri-Nya tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala (Mat. 8:20). Kita melihat bahwa tempat/lokasi merupakan salah satu hal yang turut membentuk identitas seseorang. Kalaupun seseorang mengalami perpindahan tempat tinggal, proses tersebut dihayati sebagai bagian dari pembentukan identitasnya. Yesus yang “tanpa tempat” itu juga menegaskan soal keterasingan-Nya.

Kita pun melihat keterasingan itu saat Yesus ditolak di kampung halamannya sendiri, saat ia menyatakan penggenapan kemesiasannya pada kerabat sekampungnya di Nazareth.

Namun perlu dicatat, status keterasingan Yesus ini bukanlah hasil dari penolakan atau pengucilan saja, tetapi dalam banyak kesempatan, Yesus sendiri memilih status keterasingan itu. Yesus dengan sengaja mengidentifikasikan diri-Nya sebagai orang asing.

Saat mengajar tentang kasih Yesus berkata: “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi aku tumpangan…” (Mat. 25:35). Perkataan ini bukan sekedar suatu pengandaian, tetapi suatu identifikasi. Yesus berkata bahwa Ia sendiri adalah seorang asing itu.

BACA JUGA  PGIW Jawa Barat Gelar Doa Bersama Caleg

Tak hanya dalam ajaran, Yesus menempatkan diri sebagai orang asing juga tampak praktik. Dalam narasi perjalanan murid ke Emaus di Injil Lukas. Yesus menampakkan diri kepada Kleopas dan temannya, tetapi tidak dikenali mereka. Yesus bertanya sebagai orang asing kepada mereka. Yesus mendengarkan cerita mereka, dan akhirnya memberikan makna baru terhadap cerita yang mereka ceritakan itu.

Menariknya, setelah mendekati kota, Sang Asing itu seolah-olah hendak bergegas. Namun, dua murid itu memaksa Yesus untuk mampir. Yesus Sang Asing, kini menjadi tamu.

Kemudian, sang tamu itu berganti peran bahkan menjadi sang tuan rumah. Ia memecahkan roti bagi mereka dan pada akhirnya mencelikkan mata kedua murid itu. Di sinilah kehadiran Yesus Sang Asing membawa inspirasi bahkan mengobarkan semangat kedua murid tersebut.

Melalui pemaparan ini kita dapat mengatakan bahwa Yesus sendiri menyandang status sebagai orang asing. Ia sendiri dengan sengaja mengambil status keterasingan tersebut. Namun, status tersebut kemudian membuat-Nya mampu menjangkau orang-orang asing lainnya yang dikucilkan oleh lingkungan sosial dan masyarakat.

Disarikan dari Makalah Percakapan Gerejawi Yesus Sahabat Orang Asing oleh Pnt. Ujun Junaedi (GKI Guntur) dalam PMK Ke-66 GKI Klasis Bandung.