Konfesi GKI mencatat bahwa Yesus menjadi sahabat bagi orang yang diasingkan. Dalam penjelasan tentang apa arti menjadi sahabat, dituliskan bahwa “menjadi sahabat berarti bertindak hadir dalam keprihatinan dan sikap belarasa.” (Konfesi GKI 2014, 20). Dengan demikian, menjadi sahabat adalah sebuah tindakan yang Yesus teladankan sendiri.

Yesus pernah berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabatsahabatnya…Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu… Inilah perintah-Ku kepadamu: “Kasihilah seorang akan yang lain.” (Yoh. 15:13, 14, 17).

Dari perkataan Yesus ini, kita dapat melihat betapa mulianya makna persahabatan sekaligus betapa mahalnya harga dari persahabatan tersebut. Esensi persahabatan adalah kasih yang tak mementingkan-diri (selflessness) yang diutarakan melalui pengorbanan bagi sahabatnya tersebut.

Relasi persahabatan yang dicirikan dengan kehadiran dan belarasa, tampak misalnya dalam bentuk kepedulian gereja baik secara lembaga maupun dalam diri anggota jemaat. Wajah kehadiran gereja secara lembaga dapat ditunjukkan melalui berbagai programnya dalam rangka menunjukkan belarasa terhadap orang asing.

Kita bisa menyebutkan misalnya program karitas gereja, perkunjungan ke Lembaga Pemasyarakatan, pemberdayaan ekonomi bagi jemaat ataupun masyarakat dalam bentuk pelatihan-pelatihan, ataupun berbagai kegiatan sosial lainnya. Tentu saja wajah persahabatan ini tidak terbatas pada program di atas, malahan dalam tataran kehidupan sosial anggota jemaat, relasi persahabatan dapat diterapkan secara luas.

Hal ini ditunjukkan dalam relasi sehari-hari dengan berbagai orang asing di dalam kondisi dan situasi yang beragam pula. Kita tentu ingat kisan seorang dosen di Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Rusli Ginting, misalnya. Ia ramai diperbincangkan di media sosial Facebook karena ia menoleransi waktu berbuka dan mentraktir makanan bagi mahasiswanya yang sedang berpuasa.

BACA JUGA  Martin Luther: Sang Reformator yang Konservatif (1)

Narasi ini adalah contoh dari relasi persahabatan yang ditunjukkan dalam kehidupan keseharian. Dalam lingkungan universitas Kristen, tentu menjadi mahasiswa Muslim berarti menjadi orang asing. Namun, peristiwa di atas menunjukkan bahwa tindakan persahabatan pun dapat dilakukan.

Di dalam bahasa Indonesia, terdapat beberapa kata menarik yang menunjukkan kesalingterkaitan tentang persahabatan. Kata tersebut adalah “kerabat”, “karib”, dan “akrab”. Ketiga kata ini melukiskan relasi persahabatan. Ketiga kata tersebut memiliki akar kata yang sama dengan kata “kurban” jika ditelusuri dari akar katanya yang berasal dari bahasa Arab, yakni “—qrb—” yang artinya “pengurbanan” (sacrifice).

Dengan begitu, kita bisa menarik kesimpulan sederhana bahwa esensi persahabatan adalah mau berkurban. Yesus sendiri menunjukkannya dengan mati di kayu salib.

Selain itu, persahabatan juga dimaknai sebagai sarana untuk saling berbagi. Dalam terminologi bahasa Inggris, selain kata “friendship”, terdapat sebuah kata lain yang menunjukkan relasi persahabatan, yaitu “companion”. Kata ini berasal dari dua suku kata Latin, yaitu cum artinya bersama-sama, dan panis artinya roti.

Secara imajinatif kata ini memiliki arti mendalam. Bayangkan dua orang sahabat sedang melakukan sebuah perjalanan jauh dan mereka hanya memiliki bekal satu roti. Mereka membagi bekal yang terbatas itu lalu makan bersama untuk dapat melanjutkan perjalanan mereka. Itulah makna yang lain dari persahabatan.

Melalui uraian di atas, kita dapat melihat bahwa Konfesi GKI 2014 memberikan sebuah penegasan tentang sikap Yesus kepada orang yang diasingkan, yakni dengan menjadi sahabat. Konfesi GKI 2014 sendiri mendefinisikan menjadi sahabat berarti bertindak hadir dalam keprihatinan dan sikap belarasa.

Namun demikian, dari penelusuran terkait makna persahabatan di atas, kita menemukan aspek lain dari persahabatan, yakni pemberian diri (selflessness), pengorbanan (sacrifice), dan saling berbagi (mutual-sharing). Dengan melihat dimensi persahabatan seperti ini, peran gereja dalam rangka menyabahabati orang asing semakin terbuka luas. Gereja terpanggil untuk secara kreatif memupuk dan mengembangkan relasi persahabatan kepada orang asing.

Disarikan dari Makalah Percakapan Gerejawi Yesus Sahabat Orang Asing oleh Pnt. Ujun Junaedi (GKI Guntur) dalam PMK Ke-66 GKI Klasis Bandung.