Kehilangan sesuatu adalah sebuah pengalaman yang bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Kehilangan mobil, kehilangan motor, kehilangan telepon genggam, kehilangan dompet, kaca mata, buku tabungan, kehilangan anak atau anggota keluarga serta aneka macam kehilangan lainnya.

Bagaimana perasaan seseorang ketika mengalami kehilangan sesuatu menunjukkan seberapa berharganya sesuatu itu baginya. Perasaan sedih yang dalam atau perasaan yang biasa-biasa saja. Tentu, perasaan kehilangan seorang anak, akan tidak sama dengan ketika seseorang kehilangan kaca mata atau telepon genggam bukan?

Ketika seseorang kehilangan sesuatu, ia bisa mengambil keputusan: cari atau biarkan. Apa yang ia putuskan amat bergantung seberapa berharganya sesuatu itu baginya. Ketika sesuatu yang hilang adalah sesuatu yang dirasanya tidak berharga, maka bisa jadi pemiliknya akan membiarkannya. Sebaliknya, jika sesuatu itu amat bernilai atau amat berharga baginya, maka ia akan mecarinya dengan segala upaya terbaik.

Bagaimana perasaan kita ketika sesuatu yang hilang itu ditemukan kembali? Bisa biasa-biasa saja, atau bisa gembira luar biasa! Lagi-lagi bergantung apakah sesuatu itu amat berharga bagi kita atau biasa-biasa saja bukan?

Perumpamaan domba yang hilang dan dirham yang hilang yang dikisahkan oleh Tuhan Yesus, keduanya menggambarkan kesedihan sekaligus kegembiraan. Kesedihan gembala yang kehilangan satu domba yang hilang dan kesedihan sang pemilik satu dirham yang hilang mengantarkan mereka untuk mencari. Dan kedua kisah itu berakhir sukacita luar biasa setelah gembala dan perempuan yang kehilangan itu menemukan kembali miliknya.

Betapa pun secara jumlah, domba yang hilang itu hanya 1 ekor dari 100 ekor dan dirham yang hilang itu pun hanya 1 di antara 10 dirham, namun pemilik domba dan pemilik dirham itu begitu gembiranya tatkala menemukannya kembali.

BACA JUGA  Bincang-Bincang Pemilu 2019 di GKI Gunung Sahari

Menariknya, kegembiraan gembala dan kegembiraan seorang perempuan yang kehilangan uang dirham itu dipakai oleh Tuhan Yesus untuk melukiskan sukacita di sorga ketika ada satu orang berdosa yang bertobat. Melalui perumpamaan itu, Tuhan Yesus hendak menyampaikan pesan penting sebagai kabar baik yang Ia bawa dari surga ke bumi. Bahwa suara hati Allah yang penuh belas kasihlah yang membuat setiap orang menjadi sedemikian berharga di hadapan Allah.

Setiap orang adalah berharga, dan Allah tidak menginginkan satu orang pun sampai terhilang dan tidak diselamatkan. Kegembiraan yang paling besar dalam kerajaan Allah adalah ketika ada yang hilang dan terselamatkan. Allah mencari dan menyelamatkan, bukan memilih membiarkan, sebab Allah sangat mengasihi setiap orang.

Siapa pun kita, dan dalam kondisi apa pun kita, ingatlah, Allah sangat mengasihi kita. Itulah yang membuat setiap orang berharga. Siapa pun orang itu, dan bagaimana pun kondisinya, Allah sangat mengasihinya. Dia atau mereka adalah berharga di mata Allah, cara pandang inilah yang harusnya kita pakai sebagai cara kita memandang orang lain.

Dengan demikian kita akan selalu menghargai orang lain, dan memperlakukan mereka dengan penuh hormat, siapa pun mereka dan bagaimana pun kondisinya.

Sumber: Tim Warta GKi Gunung Sahari