Kalau ada niat sebenarnya bisa kok. Sesibuk dan sebesar apapun tuntutan yang ada di jemaat, kalau diniatkan pasti bisa.” Pdt. Kukuh Aji Irianda menceritakan mengapa ia dengan tenang saja mengerjakan beberapa hal yang boleh dibilang belum lazim diupayakan di GKI, yaitu dialog lintas iman yang melibatkan tiap anggota jemaat.

Berbincang bersama SELISIP pertengahan September ini, pendeta di GKI Pamitran Cirebon itu bukannya tidak menyadari segala tantangan dan risiko yang bakal dihadapi. Mulai dari kesulitan membangun keterbukaan di jemaat, prasangka saat mulai membangun hubungan dengan umat agama lain serta ketidaksukaan dan intimidasi yang mungkin muncul dari tiap upaya dialog. Apalagi konteksnya di wilayah Jawa Barat, yang dalam tahun-tahun belakangan punya angka tinggi terkait kejadian intoleransi, diskriminasi maupun ujaran kebencian terkait SARA.

Kalau boleh dikatakan itu salib yang harus dipikul. Ya, saya rela memikulnya. Yang penting jemaat terdidik sekarang, untuk menjadi jemaat yang open minded. Rekan-rekan Muslim yang berkunjung ke gereja, maupun kita silaturahmi ke pesantren jadi bisa terbuka, sekarang. Saya senang dengan itu,” ungkap Pdt. Kukuh.

Bermula dari keresahan akibat imbas isu SARA dalam Pemilukada di Jakarta, Pdt. Kukuh meniatkan untuk memulai langkah kecil. Akhir Maret 2017, bersama remaja dan pemuda peserta katekisasi dari GKI Pamitran dan Jatibarang, mereka live in di salah satu pesantren (Bapenpori Pesantren Babakan Ciwaringin). Silaturahmi itu pun terus berlanjut, di malam Natal, GKI Pamitran gantian dikunjungi oleh para santri. Bahkan di sejumlah acara seperti tujuhbelasan, mereka tetap melakukan acara bersama.

Awalnya tentu banyak sekali kekhawatiran. Para majelis khawatir hal seperti itu bisa menggoyahkan iman. Bahkan para peserta katekisasi, yang umumnya jarang bergaul dengan rekan Muslim, juga punya sejumlah keresahan. Namun, siapa sangka mereka jadi sangat bersahabat dengan para santri. Sampai sekarang pun mereka tetap menjalin relasi.

BACA JUGA  Ada Cinta Untuk Semua: Upaya Gereja Mengasihi Sesama Anak Bangsa

Pria kelahiran Tangerang, 35 tahun silam itu merencanakan akan terus melakukan hal serupa. Ia bahkan menularkan semangat itu ke lembaga pendidikan Kristen, seperti BPK Penabur agar melakukan program berkunjung ke rumah ibadah umat beragama lain. Mengenalkan keragaman sedari dini.

Dalam refleksinya Pdt. Kukuh meyakini, dialog yang lebih keseharian dan membumi seperti ini amat diperlukan. Tidak hanya berupa wacana di tataran pemimpin agama, prasangka justru lebih penting dihadapi dalam keseharian umat. Peran pemimpin umat untuk mendorong hal tersebut masih merupakan celah besar yang harus terus diserukan.

GKI boleh jadi sudah memiliki landasan teologis yang mendorong dialog dalam keberagaman di Indonesia. Tapi jika kita masih menyebut satu dua contoh saja jemaat GKI yang sudah terbuka dan melibatkan jemaatnya dalam dialog keseharian tersebut, artinya masih belum terlalu banyak yang mengamalkan teologi tersebut. Ini masih merupakan pekerjaan rumah besar, terutama bagi pendeta-pendeta GKI. **arms