“Jika saya mengesampingkan pemikiran bahwa agama saya adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran, rasanya saya akan merasa lebih mudah untuk mencintai.” – Cemre Oeztuerk

Saya tinggal bersama Cemre, teman kos yang berasal dari Turki. Selama 4 tahun, Cemre yang saya kenal banyak sekali berubah. Tapi yang saya tahu, ia tak pernah berubah dengan pikirannya yang selalu kritis dan berani.

Suatu hari kami pergi ke pasar di Berlin. Saat pedagang melihat saya, seorang asia yang hendak berbelanja, ia pun menyapa dengan nada mengolok, ”Nihaaaaau…!” Mungkin dia pikir saya ini orang Cina. Saat saya terdiam dengan ujaran itu, tiba-tiba Cemre menjawab lantang, “Hei itu tidak baik, hati-hati kata-katamu. Jangan mengolok.” Cemre tidak suka jika ada yang mengolok seseorang dari penampakannya.

Berlin adalah kota yang unik, di setiap sudut kota kita bisa dengan mudah mendengar bahasa yang berbeda-beda. Berdasar data Kantor Statistik Federal Jerman (Destatis), tahun 2018 jumlah orang asing yang tinggal di kota ini mencapai 748 ribu dari penduduk yang berjumlah 3.7 juta.

Tak hanya Berlin, kota lain di Jerman barat pun punya banyak kaum pendatang, hingga Destatis pun mencatat satu dari empat orang Jerman memiliki latar belakang migran atau pendatang.

Sebagai bagian dari pendatang itu, bukan berarti perjalanan saya dan Cemre mulus. Olokan verbal, pandangan sebelah mata, atau perilaku berbeda yang kita terima karena ketidakfasihan berbahasa pernah terjadi. Namun dibalik semua itu, saya kian diajar untuk berpraktik cinta-kasihketika keadaan tidak mengenakkan terjadi. Ada tiga tips praktis menghadapi orang-orang yang suka mendikriminasi tanpa sebab.

“Aku tidak mengerti maksudmu, bisa kamu jelaskan?”

Jika mendengar ujaran tak mengenakkan dari seseorang, tanyakan baik apa maksud perkataannya, mintalah fakta darinya. Pernyataan sederhana ini bisa mengembalikan orang kembali ke pemikiran logisnya saat ia mulai termakan emosi. Ingatlah, seringkali orang yang menyakiti orang lain lewat perkataannya memiliki pergumulannya sendiri. Ini bukan masalahnya dengan-mu, tapi sejujurnya mereka sedang menghadapi permasalahan dengan dirinya sendiri.

“Kenapa kamu bilang begitu?”

Ajak mereka berdiskusi, cari akar masalahnya. Sedikit kepedulian, bisa menentramkan hati yang begitu berat, yang sedang bersiap menyakiti orang lain lewat kata-kata. Jangan hindari atau takut jika seseorang mengungkapkan kata-kata diskriminatif. Jika tak masuk akal, bicarakan dan kritisi dengan intensi yang baik. Tanyakan lagi, ‘mungkin harimu berat…?’

Karena membenci itu mudah, namun mudah bukan berarti benar.

Jika marah itu diibaratkan seperti api yang sedang menyala, kita selalu punya pilihan untuk turut terbakar atau membiarkan api hingga jadi bara lalu padam. Sama halnya saat seseorang mengutarakan kebencian atau hinaan, bukannya mudah untuk membalasnya dengan makian? Percayalah itu tak membawa kepuasan jangka panjang karena kita malah cenderung menyesal karena telah melukai. Sampingkan sejenak api itu, biarkan padam dan berlalu, ini akan membawa ketenangan pada diri kita sehingga kita pun bisa berbicara dengan kasih.

BACA JUGA  Pemuda: Masa Depan (?) Gereja

Bahasa cinta akan membuka ruang, merubuhkan tembok perbedaan.

Penulis: Sorta Caroline (Lulusan Master European and International Energy Law dari TU Berlin)