Semangat himne itu adalah semangat mengusahakan kesatuan,” ungkap Pdt. Em. Hosea Abdi Widhyadi sembari mengenang proses pembuatan Himne GKI. Saat itu, pendeta yang pernah menjabat sebagai ketua pemuda Sinode Am GKI ini diberi tugas khusus untuk menggubah himne untuk penyatuan GKI. Hasilnya dalam sidang Sinode Am GKI di Salatiga tahun 1984, himne itu diperkenalkan dan disahkan. Ini mendahului Sidang Sinode penyatuan GKI empat tahun kemudian.

Penekanannya pada berderap yang satu. Artinya GKI secara hukum, ekonomi, dan perjuangan dalam gereja, masyarakat serta bangsa-negara,” lanjut Pdt. Hosea. Ia juga menyoroti bahwa fenomena yang terlihat jelas saat itu adalah bagaimana pemuda menjadi pejuang utama, yang mempelopori. “Anak mudalah yang berani melampaui pandangan sebelumnya yang agak kaku terkait bentuk hukum dan lembaga.

Semangat itulah yang dicoba ditangkap dan dirangkum dalam tiap lirik yang kini menjadi Himne GKI (NKB 230). GKI dalam segala kelebihan dan kekurangannya mencoba memberikan teladan sederhana, bagaimana umat Kristen di Indonesia mengusahakan persatuan. Di tengah gereja-gereja Indonesia saat itu yang cukup sering mengalami perpecahan, tiga gereja bergabung menjadi satu lembaga dengan sekian banyak tantangannya.

Himne ini mungkin cukup sering kita nyanyikan dan dengarkan dalam lingkup jemaat GKI. Apalagi dalam momen seperti peringatan penyatuan GKI yang baru saja dilangsungkan 26 Agustus lalu. Lagu ini rasanya memang jadi identitas khas GKI. Namun, sejatinya himne ini juga adalah bentuk berbagi dengan umat Kristen Indonesia lain. Dengan kerendahan hati mengajak agar semua bersama-sama mengusahakan kesatuan derap dalam karya gereja bagi sesama.

Itulah pula mengapa cara menyanyikan yang dipilih adalah langgam himne. Dalam beberapa kali kesempatan Pdt. Hosea sempat mengingatkan bahwa lagu ini hendaknya dinyanyikan dengan nuansa yang agung-syahdu, seperti lazimnya melantunkan himne. Bukan melulu dengan hentakan semangat ala lagu-lagu mars.

BACA JUGA  Kisah Martir Pertama

Hal ini mungkin sering terabaikan di sejumlah kesempatan menyanyikan lagu yang dimulai dengan seruan Berderaplah Satu ini. Seringkali, karena berfokus menegaskan semangat, lagu ini tidak dinyanyikan dalam langgam hymn. Padahal spiritualitas di baliknya bukanlah sekedar semangat kebanggaan karena sudah bisa menyatukan tiga sinode, namun juga doa dan jerih lelah yang tak putus mengusahakan kesatuan derap menjadi mitra sekerja Allah bagi dunia. **arms