Nathan tetap tampil tenang, meski mungkin ini sudah kesekian kali dalam waktu belakangan ini, orang menanyakan pendapatnya terkait persoalan Papua. Gaya bicaranya tetap runut, seraya memaklumi ada kesenjangan informasi sekaligus sensitivitas saat masuk ke pembicaraan ini.

SELISIP menemui Jonathan Warrinussy, Senin lalu (2/9) di sebuah kafe di wilayah Dago, Bandung. Mahasiswa asal Papua yang kini tengah berjuang menyelesaikan studinya di salah satu kampus swasta di Bandung itu, aktif dalam komunitas olah raga dan sosial.

Namanya Gebora, singkatan awalnya sih gerakan bola ceria,” ungkap Nathan. Ini bermula dari kegiatan bermain futsal bersama, yang digawangi beberapa mahasiswa dan pelajar Papua di Bandung. Namun, belakangan mereka menyadari kegiatan-kegiatan seperti itu ternyata jadi ajang efektif untuk mempertemukan kaum muda Papua dan rekan daerah lain. Mereka juga turut terlibat dalam sejumlah aksi sosial bersama komunitas lain.

Ini memang awalnya spontan saja. Tidak berpikir akan besar, atau bagaimana, tapi justru terasa sekali manfaatnya di saat sekarang,” lanjutnya.

Nathan mengakui, selepas kejadian bernuansa rasialisme yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya dan beberapa kota lain pada Agustus lalu, ada tensi yang terbilang tegang, yang berimbas pada para pelajar Papua, termasuk mereka yang ada di Bandung.

Ada aksi damai menuntut keadilan serta seruan agar orang diperlakukan setara. Tapi ada juga rekan-rekan kami yang beberapa kali diperiksa. Harus diakui, ada beragam aspirasi. Wajar, mengingat ada 300-an mahasiswa Papua di Bandung sekitarnya,” papar pria kelahiran Jayapura ini.

Sikap rasialis dan sematan peyoratif nampaknya tidak hanya terjadi pada peristiwa itu, tapi cukup sering dialami. “Tapi itu hanya satu titik kecil persoalan. Permasalahan Papua memang kompleks, ada banyak segi yang harus dibenahi. Sayang, mungkin selama ini pendekatan dialog dan kebersamaan jarang dipakai,” ia merefleksikan.

BACA JUGA  Yesus Sahabat Orang Asing (2)

Nathan dan beberapa rekan muda Papua lainnya memilih untuk mengisi celah yang ada. Mereka membuka diri untuk bertemu dengan sejumlah komunitas, termasuk dengan para pimpinan gereja, seperti yang mereka lakukan minggu (1/9) lalu di GKI Maulana Yusuf. Mereka meyakini ada sejumlah hal yang bisa dilakukan bersama.

Namun, lebih jauh, Nathan sebenarnya ingin persoalan tadi didudukkan dalam pandangan yang lebih besar. Kesejahteraan masyarakat Papua dan peningkatan kualitas sumber daya manusianya.

Selama ini gereja, pemerintah atau lembaga sosial mungkin cukup banyak berfokus pada pembangunan infrastruktur, pendidikan dalam konteks sekolah dan layanan kesehatan. Tapi di banyak bidang lain seperti wirausaha, teknologi informasi, pengembangan pariwisata, serta hal-hal terkait potensi SDM di masa mendatang, masih sedikit yang menggarap,” ujarnya mengkritisi.

Kebanyakan anak-anak Papua berharap bekerja di pemerintahan atau pegawai swasta. Atau kalaupun wirausaha, masih sangat mengandalkan proyek dari pemerintah. Sektor lain di Papua kebanyakan masih dikerjakan warga pendatang. Padahal banyak potensi yang harus juga memberdayakan kaum muda Papua di masa depan.

Nathan tak sekedar mengkritisi. Ia sendiri sudah beberapa kali belajar merintis di celah-celah itu, khususnya wirausaha. “Ada yang lumayan bagus seperti dulu usaha konveksi kecil. Ada yang masih belajar seperti usaha kuliner sekarang ini,” paparnya sembari menceritakan cita-citanya menularkan semangat wira usaha ini pada rekan-rekan lain. “Mungkin ini belum menjadi fokus kebanyakan orang tua dan kawan-kawan kami, tapi ini benar-benar dibutuhkan.

Asa dan optimisme itu terus terlihat dalam beberapa hal lain yang menjadi selingan pembicaraan kami dari sore hingga jelang malam itu. Kami sadar sepenuhnya, Nathan, seperti banyak pemuda-pemudi Papua lain, layak untuk terus mengunggah serta menghidupi harapan itu. **arms