Sebuah kelompok drama anak-anak mempersiapkan diri menghadapi perayaan Natal. Semua peran sudah terisi. Ada dua peran yang masih kosong yaitu menjadi malaikat atau menjadi Maria, ibu Yesus. Dengan berani seorang anak perempuan African-American melamar untuk berperan sebagai malaikat atau sebagai Maria. Sang pelatih drama langsung menolaknya.

Alasannya, dia berkulit hitam! Sang pelatih menegaskan bahwa malaikat atau Maria haruslah diperankan oleh seorang yang berkulit putih. “Peran yang cocok bagi seorang yang berkulit hitam adalah menjadi budak atau menjadi gembala miskin atau peran lain adalah menjadi setan!” Penolakan itu sungguh menyakitkan. Labelisasi itu telah membuat si anak perempuan kehilangan kebanggaan atas dirinya! Ia hancur total! 

Mungkin sang pelatih drama tidak sadar bahwa ia tertawan oleh imperialisme budaya Barat dimana putih adalah baik, hitam pasti jahat. Bahwa orang putih selalu santun, sedangkan orang hitam pasti kriminal. Celakanya, tanpa disadari imperialisme budaya yang menciptakan kultur ketidakadilan itu ia reproduksi melalui penolakannya terhadap anak perempuan African-American itu. 

Dua kasus terakhir yang membuat hot relasi sosial bangsa kita adalah labelisasi monyet terhadap orang Papua dan penjelasan vulgar UAS terhadap salib, lambang kekristenan. Kasusnya memang beda, tetapi muara kedua kasus itu sama yaitu reproduksi imperialisme budaya yang mengagung-agungkan budaya yahg dipegang dan dipercayainya, dan saat yang sama merendahkan dan mengkafir-kafirkan budaya lain.

Dalam kasus ‘Papua’ panggilan monyet adalah cara biadab kolonialisme Belanda dalam melabel kaum pribumi. Dalam kasus kedua, cara UAS mengungkapkan dan bahwa pada salib itu terdapat jin. Apa yang terjadi dari kedua kasus itu adalah reproduksi imperialisme budaya. Ketidakadilan itu dilanggengkan! Imperialisme budaya inilah yang melahirkan polarisasi sosial keagamaan yang menciptakan label terang vs gelap, anak Tuhan vs anak setan, orang percaya vs kafir, baik vs sesat!  

BACA JUGA  [Merdeka dari Kebencian]: Toleransi dari Gereja yang Didemo

Memang, tempat yang paling efektif dalam menebarkan dan mereproduksi imperialisme budaya adalah justru melalui institusi agama dan institusi pendidikan. Hasil penelitian yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta menjelaskan bahwa 51,1% pelajar dan mahasiswa sangat intoleran terhadap mereka yang berbeda. 

Sebanyak 48,95 persen mengakui bahwa pendidikan agama mempengaruhi sikap intoleransi ini. Hasil survei menunjukkan bahwa kondisi bangsa kita mengkhawatirkan. Ada reproduksi imperialisme budaya yang melanggengkan ketidakadilan sosial yang sistematis dalam masyarakat. Bila penyakit sosial ini tidak segera ditangani, kita sedang melakukan bunuh diri sosial. Labelisasi yang tidak adil ini menciptakan kebencian yang berujung pada legitimasi kekerasan terhadap sesama!   

Satu-satunya cara untuk melawan imperialisme budaya yang menciptakan ketidakadilan sistematis ini adalah dengan melawannya melalui kebanggaan terhadap budaya bangsa Indonesia yang satu tetapi majemuk.

Sikap kritis terhadap reproduksi imperialisme budaya dalam bentuk apa pun dan dari mana pun harus makin dipertajam.

Kolaborasi antar etnik, antar aliran keagamaan dan lintas agama harus semakin ditingkatkan. Kita mungkin berbeda dalam banyak hal, tetapi kita satu bangsa dan satu dalam kemanusiaan!

Penulis: Pdt. Dr. Albertus Patty