Seliweran pendapat soal bagaimana permasalahan sosial masyarakat di Papua harus diatasi tetap ramai hingga saat ini. Masalah itu memang sangat kompleks, ragam aspirasi mencuat. Termasuk dari warga Papua sendiri, khususnya kaum mudanya.

Dalam wawancara tertulis dengan dua pemuda Papua ini, kami mencoba memberi beberapa uneg-uneg mewakili aspirasi warga Papua yang mungkin sudah sering diungkap. Namun, juga mengangkat hal yang mungkin terlewat dari banyak kabar dan pendapat soal Papua.

Pemerintah saat ini sudah sangat baik dalam dua hal,” ungkap Zakaria Viktor Kareth. Menurutnya, pemberian beasiswa dan pembangunan infrastruktur adalah hal yang paling menonjol dilakukan pemerintah selama beberapa tahun belakangan.

Cukup banyak beasiswa (afirmasi) yang diberikan untuk anak-anak dari Papua baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan baik jalan, jembatan, irigrasi dan lain-lain sangat bermanfaat sebagai bukti kehadiran pemerintah untuk masyarakat di pedalaman,” paparnya.

Bagi Zakaria kekurangan pemerintah yang paling mendasar adalah terkait penyelesaian kasus-kasus HAM di Papua dan pelurusan sejarah Papua, dua hal yang juga pernah direkomendasikan oleh LIPI dalam penelitiannya terkait akar masalah konflik di Papua.

Perlu dilakukan dialog terkait pelurusan sejarah Papua yang melibatkan pihak-pihak terkait. Dasar – dasar dialog ini harus dilakukan secara bermartabat, adil dan civilized. Presiden perlu menyampaikan permintaan maaf kepada orang Papua dan juga sesama anak bangsa lainnya yang telah dilanggar hak asasinya,” lanjut Zakaria seraya mencontohkan hal yang pernah dilakukan perdana menteri Australia, Kevin Rudd, di tahun 2008, yang meminta maaf atas pelanggaran hak asasi terhadap warga asli Australia.

Sebagai seorang yang pernah menjalani studi di luar Papua, ia merasa tidak perlu ada perlakuan khusus bagi para pelajar Papua yang belajar di wilayah lain. “Yang penting bagi saya adalah anak-anak ini dapat ikut berperan aktif dalam pelayanan gereja juga di masyarakat. Hal ini penting karena memungkinkan mereka untuk dapat bergaul dengan saudara seiman dari berbagai suku, etnis dan bahasa,” pungkasnya.

BACA JUGA  Makrina: Pembimbing Keluarga Kudus

Sementara itu, Johni Korwa meyakini ada tiga elemen penting yang perlu terus bergumul dalam mengatasi permasalahan di Papua, yaitu pemimpin agama, pemuka adat dan pemerintah. “Penting juga ketiganya untuk menelusuri kembali akar konflik di Papua dan merespon serta menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi sebelumnya,” lanjutnya menyetujui apa yang telah disampaikan Zakaria.

Terkait mahasiswa yang studi di luar Papua, Johni meyakini gereja tidak cukup hanya mendoakan tapi juga harus mengambil peran bersama pemerintah/aparat di Papua untuk memberikan pemahaman tentang arti penting sebuah pendidikan, dan terlebih, menjamin keamanan mahasiswa Papua yang studi di luar melalui kerjasama dengan pemerintah/pihak keamanan di daerah setempat. **arms