Seorang anak laki-laki yang mengikuti sebuah pertandingan rekreatif bersama dengan teman-teman seusianya tiba-tiba berlari ke sudut lapangan, dia  berlutut dan berdoa sesaat sebelum bertanding. Apa yang dilakukannya itu ternyata diperhatikan oleh banyak orang, dan sebagian dari mereka merasa kagum dengan apa yang dilakukannya: berdoa  sebelum bertanding.

Dan pertandingan pun dimulai, semua peserta berusaha memberikan penampilan terbaiknya, termasuk di dalamnya anak laki-laki kecil tadi. Dan hasilnya adalah anak laki-laki kecil itu keluar sebagai juaranya, dia berhasil mengalahkan banyak teman-teman seusianya.

Saat dia mendapatkan piala, seseorang yang lebih dewasa bertanya kepadanya, “Tentunya sebelum kamu bertanding, dalam doa kamu meminta kemenangan itu kepada Tuhan, ya?” Mendapatkan pertanyaan demikian, anak laki-laki kecil itu menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak… Tadi aku berdoa kepada Tuhan supaya aku diberi kekuatan ketika aku kalah!”

Bukankah itu adalah sebuah doa yang tidak biasa, sebuah doa yang di dalamnya kita menyampaikan sesuatu yang melawan hasrat dan keinginan kita. Rasanya hampir-hampir tidak ada orang yang menghendaki kekalahan dalam doanya, tidak ada orang yang menginginkan kurang dari apa yang diharapkannya.

Oleh karenanya hampir di setiap doa kita cenderung meminta, bahkan meminta yang terbaik dan paling baik. Doa kita menjadi kalimat-kalimat yang cenderung “memaksa” agar Tuhan memenuhi apa yang menjadi permintaan kita. Kita seolah-olah menjadi penentu yang paling tahu bahwa apa yang kita minta adalah benar-benar yang terbaik dari yang patut kita dapatkan.

Kita tampak tidak membuka ruang untuk Tuhan menyatakan kenyataan lain, kenyataan yang sangat mungkin berbeda dan bahkan sangat berbeda dari apa yang kita mintakan.

Jika demikian yang kita lakukan, apakah doa benar-benar menjadi doa dari kita di hadapan Sang Khalik – atau jangan-jangan tidak lebih hanyalah nafsu manusiawi yang dibungkus dengan kalimat-kalimat yang tampak religius?

BACA JUGA  Bersama Mengukir Narasi Cinta Bagi Bangsa

Aristoteles, seorang filsuf Yunani pernah berkata demikian, “Doa memberikan kekuatan pada orang yang lemah, membuat orang yang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan.”  Aristoteles mengatakan demikian tentunya dalam pemahaman doa yang sesungguhnya, doa yang di dalamnya kita datang kepada Sang Khalik sebagai pribadi yang benar-benar mencari dan mencoba menemukan kehendak dan rencana-Nya dalam kehidupan yang kita jalani.

Kita datang sebagai pribadi yang membutuhkan Dia karena kita tidak tahu secara tepat tentang banyak hal yang harus kita ambil dan pilih untuk kehidupan masa depan kita, dan oleh karenanya kita memohonkan yang terbaik dari Dia.

Di dalam doa memang ada permohonan, di dalam doa juga terbersit harapan dan cita-cita, di dalam doa memang kita dapat mengajukan apa saja kepada Dia yang menjadi alamat doa kita, namun di akhir doa sepatutnyalah kita meminta agar kehendakNya yang jadi di atas kehendak kita. Dan kita sebagai pemohon yakin dan percaya bahwa itulah yang terbaik yang Tuhan sediakan bagi kita, sehingga kita dapat bersyukur atasnya.

Di dalam doalah kita mempercayakan seluruh perjalanan kehidupan kita, baik yang menyangkut masa lalu yang sudah kita tapaki, masa sekarang yang sedang kita jalani maupun masa depan yang belum sepenuhnya kita ketahui. Doa yang akan mengawali pagi baru kita tiap harinya dan menutup perjalanan sehari pada tiap malamnya. Mahatma Gandhi, secara ringkas menuliskan demikian tentang doa, “Doa adalah kunci pembuka hari dan sekrup penutup malam.”

Selamat untuk terus bertekun dalam doa, dan selamat belajar untuk memahami setiap kehendak-Nya dalam tiap doa yang kita naikkan, karena tidak selamanya pengalaman hidup yang tampak menyusahkan itu menjadi bencana bagi kita – dan tidak selalu pengalaman hidup yang menyenangkan itu adalah anugerah. Bisa saja keduanya bertukar menurut kehendak-Nya, dan kita diminta untuk memahaminya dengan penuh kegembiraan.

BACA JUGA  Hukum yang Memberdayakan Bukan Menindas

Penulis: Pdt. Imanuel Kristo (Sumber: Khotbah Tanpa Mimbar)
Ilustrasi: Pixabay