Keberadaan bulan keluarga, yang umumnya dilangsungkan di bulan Oktober di lingkup jemaat GKI Sinode Wilayah Jawa Barat, memang bisa dikaitkan dengan sejumlah event tematik. Misalnya saja di dua tahuh ke belakang mengangkat tema kebangsaan (karena momen 28 Oktober). Atau seperti di beberapa jemaat GKI di tahun ini yang mengangkat isu keluarga di tengah era disrupsi teknologi informasi. Demikian pula cukup banyak jemaat di tahun ini yang mengangkat tema lingkungan.

Agaknya sudah cukup banyak warga jemaat yang menyadari, bahwa penekanan kesadaran lingkungan sangat penting dilakukan di tingkat keluarga. Betapa tidak, pola konsumsi dan pengelolaan tiap rumah tangga memang cukup berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Juga memberi kesadaran sejak dini, terutama pada anak.

Dalam sejumlah perayaan bulan keluarga GKI yang bertema lingkungan, ada sejumlah hal yang penting untuk lebih diperhatikan. Sebab tidak jarang dalam pelaksanaannya terkadang jadi sekedar simbolik atau malah tidak sesuai dengan semangat kelestarian lingkungan.

Sekedar memberi contoh dalam bazaar atau pameran kreativitas yang mencontohkan pendaur-ulangan sampah plastik, dalam beberapa kegiatan hanya sekedar menampilkan produk yang hampir dipastikan tidak akan dipakai di keseharian. Lebih parah, malah sengaja mencari bahan dari bahan plastik baru. Ini tentu tentu malah menyalahi semangat untuk penyadaran kepedulian lingkungan itu sendiri.

Sebenarnya untuk konteks keluarga yang patut lebih ditekankan adalah pengurangan penggunaan bahan-bahan yang sulit terurai. Penggunaan benda pakai ulang (reusables) banyak diajukan para pegiat lingkungan sebagai salah satu bentuknya. Ide dasarnya adalah, jika kita menggunakan benda yang sama berulang-ulang, maka benda tersebut tidak lekas menjadi beban di tempat pembuangan sampah.

Kita melihat di beberapa kota besar Indonesia kini bisa dijumpai “unpackaged store”, yaitu toko yang menganjurkan pembelinya mewadahi belanjaan di dalam tempat yang dibawa sendiri dari rumah. Biasanya toko semacam ini menjual produk makanan, perawatan diri, serta perawatan rumah tangga.

BACA JUGA  Sekolah Minggu Generasi Alpha

Penggunaan reusables mungkin dinilai kurang praktis dan mudah. Misalnya di unpackaged store tadi, pembeli harus merencanakan dengan baik apa saja yang akan dibeli dan wadah apa yang cocok untuk produk tersebut. Jika lupa membawa wadah, mungkin ia jadi batal membeli benda itu.

Namun, reusables tetap diajukan sebagai solusi prioritas. Jadi bukan daur ulang kemasan atau penggunaan kemasan yang (katanya) bisa terurai di alam yang lebih digalakkan. Sebab saat ini, dunia baru mendaur ulang 10% dari produk yang sebenarnya bisa didaur ulang. Jadi, suatu benda yang bisa didaur ulang belum tentu akan didaur ulang. Salah satu penyebabnya adalah biaya mendaur ulang yang lebih mahal daripada memakai bahan baku baru.

Demikian pula penggunaan bahan yang katanya lebih mudah terurai seperti kertas, misalnya. Meskipun kertas bisa terurai di alam, tapi perlu diingat bahwa kertas berasal dari pohon, yang penebangannya sering kali tidak sepadan dengan penghijauan kembali hutannya. Bahan lain semisal bioplastik/biodegradable/compostableplastic juga memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi agar benar-benar terurai, misalnya suhu dan kelembapan yang terkontrol, dimana kondisi ini tidak bisa dicapai di alam bebas.

Jadi alih-alih sekedar trend yang simbolik, evaluasi atas bulan keluarga bertema lingkungan bisa mulai bergerak ke arah yang lebih substansial lewat aksi yang langsung terasa. **arms