Cinta Tuhan dengan cinta kita amat berbeda. Cinta Tuhan kepada kita tidak pernah gagal, sekali untuk selamanya, sementara cinta manusia sering berakhir dalam kegagalan dan kekecewaan.

Mengapa? Karena cinta Allah tidak tergantung dari pihak lain, cinta Allah berasal dari Allah, oleh karena Allah dan untuk kebesaran dan kemuliaan Allah, sementara cinta manusia banyak ditentukan oleh siapa yang kita cintai, dan bagaimana ia bersikap terhadap kita, dan semata-mata hanya untuk kepentingan diri kita.

Banyak pernikahan mengalami kegagalan karena setiap orang yang ada di dalamnya tidak memberlakukan cinta Tuhan, banyak anak-anak yang lari dari rumahnya karena ia tidak merasakan cinta Tuhan di dalamnya, rumah bukan tempat yang nyaman untuk membebat luka-luka kehidupan, rumah bukan tempat yang baik untuk beroleh kekuatan, semangat dan daya hidup. Rumah dirasakan sebagai tempat yang penuh pertengkaran dan ketegangan.

Kalau cinta Tuhan ada di tengah keluarga kita maka di dalamnya kita akan merasakan kehangatan, keintiman serta gelora tidak berkesudahan, betapapun orang-orang yang ada di dalamnya bukan orang yang sempurna. Sebab ketika cinta Tuhan diberlakukan di dalamnya ada penerimaan, pengampunan, kelemah-lembutan.

Setiap orang yang ada di dalamnya memandang dirinya dan sesamanya sebagai mahluk yang berharga di mata Tuhan, dan setiap orang yang ada di dalamnya memandang keluarga sebagai lembaga yang berharga yang harus dipelihara, didandani dan dimuliakan.

Cinta Tuhan kepada kita yang tidak berkesudahan itulah yang membuat Allah senantiasa merawat, memelihara dan mendandani perjanjiannya dengan kita. Ketika perjanjian itu rusak oleh karena kita, ia selalu membaharui, dengan kasih setia dan rahmat. Sehingga kitab Ratapan mengatakan: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habishabisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

BACA JUGA  Mencari Kembali Organis Gereja di Seminar KLM GKI

Penulis: Pdt. Suta Prawira