Begitu banyak yang patut kita syukuri sebagai bangsa. Indonesia dengan segala kekayaannya – yang pada saat yang sama juga menjadi tantangannya – telah menjadi negara yang memainkan peran penting di regional dan global. Pada usia seabad nanti, Indonesia diprediksi menjadi kekuatan ekonomi nomor empat dunia.

Bukan lewat jalan mudah, berbagai masalah dari perang kemerdekaan, pemberontakan berbasis wilayah dan ideologi, konflik SARA, dan krisis ekonomi, menerpa bahkan menggoyang bangunan NKRI. Sementara itu, kita masih menghadapi masalah besar yaitu kemiskinan dan ketimpangan, korupsi, serta yang tak kalah mengkuatirkan yaitu intoleransi dan radikalisme.

Hal ini mengingatkan kita bahwa meski sebagai bangsa kita sudah merdeka secara politik, kita masih dibelenggu oleh musuh dan penjajah yang ada di dalam diri kita sendiri. Sebagai bangsa kita harus terus berjuang membebaskan diri dari pikiran sempit, pementingan diri dan kelompok, dan ketamakan yang merupakan akar dari masalah utama bangsa.

Saat yang sama, kita punya tugas besar untuk membebaskan saudara-saudara kita yang miskin, terasingkan, dan tertindas. Kita punya pekerjaan rumah yang tidak mudah untuk merajut kebersamaan dan merawat keberagaman sesama anak bangsa.

Persoalannya kita sering tak sadar bahwa kemajuan dan masalah bangsa terkait dengan diri kita sebagai warga negara. Mungkin orang merasa terlalu kecil untuk ikut berpartisipasi memajukan negeri dan cenderung menganggapnya sebagai urusan pemerintah semata.

Padahal, dalam kerangka pembangunan nasional untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang lebih baik, masyarakat adalah pelaku utama sekaligus sasaran pembangunan. Dalam perspektif iman, itu adalah jalan menjadi warga negara yang bertanggungjawab sebagai wujud kasih kita kepada Allah dan sesama.

Membangun Bangsa

Meyakini panggilannya untuk mengusahakan kesejahteraan yaitu keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan, gereja mendukung, terlibat, berpartisipasi penuh dalam pembangunan bangsa.” Komitmen ini dinyatakan secara gamblang dalam Tata Gereja kita. Secara umum gereja mewujudkan partisipasinya melalui pengajaran dan pelayanan sosial baik oleh gereja sebagai institusi maupun oleh setiap anggotanya.

BACA JUGA  Doa untuk Papua

Sejatinya pelaksana misi gereja adalah warga gereja di dalam kehidupan sehari-harinya. Maka salah satu agenda penting gereja adalah membina dan menginspirasi umat untuk bukan saja memiliki karakter baik tetapi menyadari dan menemukan tanggungjawabnya sebagai warga negara.

Pengajaran yang mengajak umat memikirkan masalah bangsa dalam terang firman Tuhan merupakan pendorong bagi mereka untuk berpartisipasi dalam pembangunan melalui peran keseharian masing-masing. Dengan demikian, pengajaran gereja tidak berhenti pada kesalehan pribadi tetapi berimplikasi terhadap aspek sosial, ekonomi, politik, budaya dan aspek kehidupan lainnya.

Sebagai institusi, gereja menjalankan pelayanan sosial untuk melayani pribadi dan keluarga dalam memenuhi kebutuhan mendesak. Pelayanan seperti ini adalah model untuk diteruskan oleh jemaat dalam lingkungan mereka. Mungkin gereja, sebagai institusi, hanya dapat melaksanakan pelayanan sosial sekali sebulan. Tetapi, jemaat dapat melakukannya setiap waktu. Inisiatif gereja menggulirkan kegiatan dan kerjasama lintas agama adalah “ruang belajar” bagi jemaat agar terbiasa melaksanakan kegiatan dan kerjasama dengan semua pihak yang berkeinginan baik.

Gereja juga berkarya melalui badan-badan pelayanan di bidang seperti pendidikan dan kesehatan. Gagasan penyelenggaraan pelayanan seperti itu adalah memperjuangkan keadilan bagi mereka yang tidak terlayani karena diskriminasi dan berbagai alasan lain. Kita bersyukur bahwa pelayanan seperti ini memberi sumbangsih signifikan bagi pembangunan bangsa.

Melaksanakan pelayanan dalam perspektif pembangunan bangsa membuat kita semakin merasakan pentingnya kerjasama dengan semua komponen bangsa. Gerakan sosial untuk mengatasi masalah struktural akan lebih realistis untuk diupayakan dengan bekerjasama dengan pemerintah, institusi pendidikan, industri, dan masyarakat lainnya.

Menemukan dan Mengerjakan Tanggungjawab

Pembebasan dan kemerdekaan adalah tema besar alkitab. Allah Tritunggal membebaskan umatnya dari perbudakan, dari perhambaan dosa, dan dari egoisme dan pikiran sempit. Tuhan memerdekakan dan menjadikan kita kawan sekerja-Nya untuk melayani sesama dan ciptaan. Kemerdekaan yang demikian ada selama Roh Kudus diam di dalam kita (2 Kor 3:17).

BACA JUGA  Kegigihan Mengubah Keadaan

Kita dibebaskan untuk mengenal Allah dan kehendak-Nya yang tidak terbatas, merdeka untuk melihat dengan cara pandang baru, lalu menemukan dan mengerjakan pelayanan yang memajukan kehidupan seperti yang dialami oleh rasul-rasul dan tokoh-tokoh gereja sepanjang masa. Kemerdekaan itu adalah mengerjakan kehendak Allah.

Dengan esensi pembebasan demikian, marilah kita sebagai gereja terus mengusahakan pelayanan terutama bagi saudara-saudara yang paling membutuhkan. Kita perluas kepedulian dan keterlibatan dalam pembangunan bangsa sesuai karunia dan talenta yang Tuhan beri. Kita berkolaborasi dengan semua komponen bangsa memajukan negeri sehingga setiap rakyat Indonesia merasakan kasih dan pemeliharaan-Nya.

Penulis: Pnt. Jeffrey Samosir (GKI Maulana Yusuf)