Seberapa beragam jemaat Kristen mula-mula? Bahasan kekristenan seringkali hanya membatasi penceritaan kondisi tersebut pada jemaat di Yerusalem, dimana para rasul memulai pelayanan, atau juga jemaat di Antiokhia, yang terbilang beragam dan pertama kali disebut Kristen.

Kenyataannya, dalam surat-surat rasuliyah, kita pun tetap melihat keberagaman jemaat. Contoh menarik adalah surat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose, yang juga diharapkannya turut dibacakan untuk jemaat Laodikia, kota di dekatnya. Dalam pasal 4 Paulus menghabiskan hampir seluruh tulisannya untuk menyebut satu per satu nama para pengikut Tuhan dengan nada pujian dan motivasi.

Ada Tikhikus yang berasal dari Asia Kecil, ada budak pelarian Onesimus, yang menjadi pengikut Kristus saat berjumpa dengan Paulus di penjara. Ada orang-orang percaya berkebangsaan Yahudi seperti Aristarkhus, Markus, dan Yustus. Ada pula pengikut Kristus yang bukan Yahudi seperti Epafras, tabib Lukas, dan Demas. Ada juga Nimfa, yang kemungkinan besar nama seorang perempuan, dan disebut menyediakan rumahnya untuk dijadikan tempat berkumpulnya jemaat Laodikia.

Orang-orang ini sangat besar artinya bagi Paulus dan pelayanannya. Nama-nama mereka memang hanya muncul sekilas. Namun dari sana, kita bisa melihat orang miskin seperti Onesimus yang bisa diterima apa adanya, lantas berkarya bagi jemaat. Juga perempuan kaya seperti Nimfa, yang rumahnya bisa didatangi oleh saudara-saudari dari berbagai status sosial. Mereka semua diterima, sekaligus berkontribusi untuk menerima orang lain.

Dalam terbentuknya jemat, terlihat bahwa pribadi yang menjadi penyusunnya bukanlah monoton satu kelompok. Berbeda dengan berbagai kelompok sosial yang biasanya mencari anggota baru yang sama seperti mereka, gereja milik Allah terus dituntun untuk meluaskan diri melampaui batasan sosial, demi merangkul umat manusia serta diisi beragam tipe orang.

BACA JUGA  Yesus Sahabat Orang Asing (2)

Allah memilih orang-orang pilihan-Nya dari berbagai bangsa, budaya serta tingkat sosial dan menjadikan mereka satu dalam Kristus. Hal yang tentu patut menjadi refleksi bagi gereja masa kini, apakah masih mencerminkan keanekaragaman seperti yang dilakukan oleh jemaat mula-mula di Kolose dan Laodikia?

Gereja Allah harus menunjukkan adanya kesatuan melalui keanekaragamannya. Gereja harus bisa merangkul dan dirangkul tiap umat manusia. Tiap orang yang di dalamnya pun saling berkontribusi dan saling membangun.**arms

Ilustrasi: Reruntuhan Kolose (Gregorys Magee)