Pelayanan pada mereka yang menanggung terminal illness sering menjadi permasalahan tersendiri di gereja. Ada perasaan sungkan, serta ketidaktahuan akan sikap yang harus diambil dalam pelayanan. Tak jarang gereja mengabaikan pelayanan seperti ini, karena kompleksitasnya. Kerap pula kesalahan dalam pelayanan menimbulkan perasaan terluka yang begitu mendalam.

Secara medis, terminal illness didefenisikan sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak ada obatnya, dimana kematian tidak dapat dihindari dalam waktu yang bervariasi. Biasanya ada penyakit pada stadium lanjut yang merupakan penyakit utama tidak dapat diobati dan bersifat progresif (misal kanker atau tumor). Pengobatan medis biasanya hanya bersifat paliatif, mengurangi gejala dan keluhan atau memperbaiki kualitas hidup.

Mereka yang mengalami terminal illness biasanya akan mengalami masalah fisik, terutama nyeri karena sakit. Perubahan kondisi kulit, distensi (perbedaran pada perut), konstipasi serta pelemahan otot juga sangat sering mengiringi.

Lebih jauh, para penderita umumnya mengalami masalah psikologis karena mereka punya tingkat ketergantungan yang tinggi, kehilangan kontrol, kehilangan produktivitas serta hambatan dalam berkomunikasi. Tak jarang penderita mengisolasi diri atau mulai kehilangan harapan dengan terus membicarakan kematian. Secara spiritual, tak jarang pula pasien yang menganggap penyakit ini sebagai hukuman atau pengabaian dari Tuhan.

Dalam praktik, kesalahan yang sering terjadi adalah karena kekurangpekaan sehingga melupakan beberapa aspek yang terbilang penting.

Misalnya saja para pelayan terburu-buru untuk langsung memberi nasehat dan penguatan, namun kurang mendengar dan melihat kebutuhan. Atau memberikan harapan yang sifatnya instan (misal menekankan secara berlebihan untuk mujizat kesembuhan) sehingga berujung kekecewaan atau perasaan terhakimi. Kadang pula kita melupakan layanan pada keluarga yang merawat si pasien.

Perspektif bahwa orang percaya harus terlihat teguh dalam penderitaan, atau lebih jauh bahwa orang percaya harusnya bebas dari sakit-penyakit, seringkali berdampak buruk baik pada pasien maupun keluarga. Gereja perlu melatih diri lebih jauh untuk menghadirkan pelayan yang punya kepekaan serta lebih mendengar dan melihat kebutuhan pada mereka yang mengalami terminal illness.

Disarikan dari: Bahan Pembinaan Pelayanan pada Terminal Illness (GKI Kota Wisata)