Depresi merupakan gejala yang lazim oleh mereka yang mengalami terminal illness. Yang perlu ditekankan adalah depresi bukan sesuatu yang salah. Ini merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh yang dipilih individu di tengah posisi dan kondisi kritis yang tak terhindarkan.

Dengan mekanisme ini individu tersebut masih dapat memiliki sense of life sehingga ia dapat mengeluh, menangis, marah, meratap dan mempunyai setitik pengharapan. Ia memilih posisi ketidakberdayaan, yang mengundang belas kasihan dari dirinya sendiri, sesama manusia, dan dari Allah.

Tanpa mekanisme pertahanan tubuh ini, individu hanya mempunyai satu kemungkinan yaitu penolakan pada hidup, yang bisa berujung pada bunuh diri. Dalam kondisi depresi yang individu butuhkan adalah perasaan dimengerti dan ditemani oleh seorang yang ia harapkan. Orang yang rela mendengar seluruh isi hati dan perasaannya.

Pada penderita terminal illness, depresi biasanya memiliki sejumlah tahapan. Biasanya dimulai dari penyangkalan, dimana pasien kaget sewaktu mendengar kondisi medisnya, lalu muncul perasaan sedih dan kadang-kadang perasaan marah (termasuk marah pada Tuhan atau diri sendiri).

Tahap yang lazim berikutnya adalah muncul kecemasan menghadapi hal-hal yang tidak diketahui seputar penyakit dan gejala-gejalanya. Ada juga yang merasa bersalah, tidak berdaya dan mulai melakukan sikap tawar menawar tentang kehidupan.

Tahap berikutnya adalah menuju ke taraf penerimaan. Ada pasien yang bisa “menerima,” tetapi beberapa masih disertai “depresi”. Pelayanan konseling dan perlawatan pada penderita terminal illness berfokus pada upaya menemani hingga mencapai tahapan ini. Tujuannya agar pasien bisa menerima “kenyataan” bahwa dirinya ada di dalam fase kondisi terakhir dari kehidupannya.

Pelayanan konseling seperti ini merupakan bagian perawatan paliatif yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup dan menganggap kematian sebagai proses yang normal. Perawatan paliatif yang bersifat medis tidak bermaksud mempercepat atau menunda kematian. Namun, sifatnya lebih menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang mengganggu (pain free, pain management). Perawatan paliatif merupakan upaya menjaga keseimbangan psikologis dan spiritual. Agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya.

BACA JUGA  Mengapa Engkau Menangis? Belajar dari Maria

Kesediaan berempati, mendengar dan ikut merasakan penderitaan merupakan hal yang penting dimiliki dalam pelayanan ini. Pasien tidak membutuhkan nasihat dan ia tahu bahwa konselor atau pelawat tidak dapat menyembuhkan penyakitnya. Selama gejala depresi masih ada, tugas pelayanan ini hanyalah “available,” hadir pada saat dibutuhkan. Konselor atau pelawat tidak seharusnya memberi nasehat apa-apa, hanya melakukan emphatic-listening.

Disarikan dari: Bahan Pembinaan Pelayanan pada Terminal Illness (GKI Kota Wisata)