Organ merupakan alat musik yang terbilang tua. Penggunaannya sebagai instrumen musik setidaknya bisa terlacak hingga zamannya Ktesibius dari Alexandria (abad III SM) yang diyakini sebagai pencipta organ hidrolik yang dipakai sebagai alat musik zaman Helenis hingga Kekaisaran Romawi dan perkembangan kerajaan-kerajaan Eropa.

Karena berkembang di masa tersebut, tak heran organ menjadi salah satu unsur instrumen yang turut mempengaruhi perkembangan musik Kristiani, terutama di Eropa Barat. Sejak era abad pertengahan hingga perkembangan gereja Protestan, organ merupakan instrumen yang paling dominan untuk mengiringi lagu-lagu Kristiani. Sebaliknya pula, lagu-lagu Kristiani di zaman itu pun diciptakan dalam nuansa yang memang dirancang untuk diiringi organ.

Paus Vitalianus (abad ke-7 M) dianggap sebagai tokoh yang berperan besar dalam memasukkan organ sebagai instrumen pengiring untuk lagu-lagu gerejawi. Berbeda dengan abad sebelumnya, dimana lagu ibadah Kristen umumnya tidak menggunakan instrumen musik.

Suara khas yang merambat melalui pipa pada organ, memang menjadikannya sebagai pengisi besar dalam kebanyakan lagu-lagu gereja yang dinyanyikan paduan suara atau bersama jemaat. Nuansa yang ditimbulkan memberi kesan megah dan syahdu sehingga sangat cocok dengan nuansa yang hendak dibangun oleh lagu pujian Kristiani. Sampai-sampai Paus Pius XII (1876-1958) pernah berkomentar kalau “…organ dapat menambah kemegahan pada upacara gerejawi dan mengarahkan pikiran pada Tuhan serta hal-hal sorgawi.

Pendapat Paus Pius XII itu memang tidak berlebihan, jika melihat sekian banyak komposisi himne Kristen Eropa yang berfokus pada organ. Demikian pula di hampir semua bangunan gereja Katolik dan Protestan di Eropa, Amerika maupun gereja yang cukup tua di Australia atau wilayah Asia, organ merupakan bagian dari bangunan gereja. Biasanya berupa organ pipa besar yang letaknya sudah diperhitungkan sejak membangun gedung gereja.

BACA JUGA  Tuhan Pulihkan Kami

Belakangan, penggunaan organ di gereja-gereja memang semakin berkurang, seiring perkembangan musik gerejawi yang lebih kontemporer. Perannya cukup banyak digantikan oleh piano atau keyboard yang lebih mudah digunakan serta tidak terlalu sulit pemeliharaannya.

Penggantian ini sebenarnya tidak selalu pas, mengingat nuansa musik gerejawi tertentu, terutama himne klasik, memang lebih sesuai diiringi organ. Gereja-gereja yang masih memelihara himne seperti itu dalam ibadah memang perlu memberi perhatian pada penggunaan organ. Apalagi seiring perkembangan sekarang organ pun hadir dalam bentuk elektronik, semi analog maupun digital. **arms

Ilustrasi: Organ di Gereja Lutheran Evangelikal (ELC) Frederick