Dua tahun lebih Gerakan Kebangsaan Indonesia sudah berkiprah. Badan pelayanan dalam lingkup GKI Sinode Wilayah Jawa Barat ini boleh dibilang sangat gencar menyerukan agar warga gereja peduli pada persoalan sosial kemasyarakatan, termasuk pendidikan politik serta menularkan semangat kebangsaan. Itu terlihat jelas, terutama dalam masa-masa jelang pemilu tahun ini.

Dalam kesempatan wawancara dengan SELISIP, Pdt. Darwin Darmawan, ketua Gerakan Kebangsaan Indonesia, menjelaskan hal yang telah dicapai serta tantangan yang dihadapi bersama dalam gerakan ini.

Kalau boleh dibilang bicara soal nasionalisme itu kan bertentangan dengan natur kita yang egosentris. Bandingannya di gereja untuk mencari pelayan yang tulus melayani di gereja saja tidak mudah. Apalagi ini bicara soal bangsa, yang lebih abstrak dan besar. Ditambah sikap yang terbilang apatis terhadap kondisi politik di negeri ini,” papar Pdt. Darwin menjelaskan tantangan semangat kebangsaan.

Tapi ada hal yang patut disyukuri meski harus melewati tantangan yang berat dan kurang mengenakkan. Pendeta di GKI Bogor Baru ini menjelaskan, politisasi isu SARA dalam Pemilukada DKI Jakarta dan yang kemudian berlanjut pada Pilpres 2019, warga jemaat GKI, dan umat Kristen secara keseluruhan, seolah dibangunkan untuk peduli pada persoalan bangsa ini.

Tinggal bagaimana sekarang semangat dan kepedulian itu dikelola, karena secara partisipasi warga jemaat GKI sudah cukup baik. Selama menjelang pemilu lalu, kita gerak di tiap jemaat. Juga sekolah dan universitas di lingkup GKI. Antusiasmenya cukup tinggi. Lembaga pendidikan terbuka, juga ada dua klasis yang secara khusus membentuk gerakan kebangsaan. Di klasis lain pun seminar pemilu disambut semangat,” lanjut Pdt. Darwin.

Bagi pria yang saat ini juga menjabat sebagai Sekretaris I BPMSW GKI SW Jawa Barat ini, upaya membangun semangat kebangsaan yang demikian, tidak boleh berhenti sekedar pada momen pemilihan umum. Apalagi bertumpu pada dukungan ke satu figur politik tertentu.

BACA JUGA  Gereja sebagai Sahabat Embara

Kita harus akui gerakan sektarian itu cukup luas dan massif dampaknya di Indonesia. Kita perlu terus mengupayakan kebersamaan dengan elemen lain di bangsa ini, yang sama-sama berjuang demi kesatuan,” ujarnya bersemangat, sembari menceritakan sejumlah kegiatan kebangsaan yang dirintisnya bersama rekan-rekan lain. Khususnya kegiatan kebangsaan bagi kaum muda.

Kaum milenial kita sebenarnya sudah tidak mengalami trauma politik seberat yang dirasakan generasi sebelumnya. Tapi tidak lantas mereka pasti nasionalis. Namun, satu ciri yang cukup menonjol adalah mereka sangat terbuka untuk membantu orang lain. Ini mungkin jadi pintu masuk yang baik untuk mengajarkan tentang kebangsaan,” tambah Pdt. Darwin.

Pdt. Darwin menyadari sepenuhnya, tanpa upaya yang total dalam membagikan semangat kebangsaan dan kebersamaan seperti ini, kita tidak bisa berharap bangsa kita bisa tetap bertahan sebagai bangsa yang beragam dan beradab. **arms