Prinsipnya kan kalau kita mau berjalan panjang, kita harus jalan bareng-bareng. Membangun kesadaran nasionalisme itu kan jalan panjang. Kita harus kerjasama dengan yang lain. Kalau nggak, bisa lelah karena terlalu besar masalahnya. Sayangnya kita mungkin secara kultur dan struktur belum tentu siap untuk membuka diri seperti itu.

Demikian ungkap Pdt. Darwin Darmawan, saat melanjutkan cerita tentang pergumulan yang ia dan rekan-rekan rasakan di Gerakan Kebangsaan Indonesia. Ia menjelaskan GKI sebenarnya punya bekal yang baik lewat semangatnya untuk tidak sekedar menonjolkan kekristenan, tapi juga keindonesiaan. Juga telah memiliki ajaran sosial gereja yang menekankan kecintaan akan bangsa dan keterlibatan di sosial politik.

Tinggal sebenarnya bagaimana ajaran itu dihidupi dalam praktik tiap warga jemaat. Bukan hanya di pembicaraan para teolognya. Untuk ini memang masih ada PR panjang,” lanjutnya.

Pria yang kini menempuh studi doktoral di Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia ini menyadari proses yang demikian memang menantang, baik secara pribadi maupun komunitas. Seringkali karena kurang bergaul, gereja maupun individu di dalamnya, kurang bisa membuka diri untuk bekerja sama.

Pdt. Darwin tidak menampik bahwa kepedulian gereja terhadap isu di masyarakat sekitarnya seringkali tidak lahir genuine dari kesadaran bersama jemaat. “Bisa jadi karena kepepet, misalnya mengalami masalah dalam beribadah, tekanan politis, atau mungkin memang karena passion pemimpin jemaatnya. Kalau jemaat lumayan nyaman rasanaya nggak kepikiran untuk bergerak. Tapi asalkan mau belajar, hal-hal seperti itu pun bisa dipakai Tuhan untuk menumbuhkan kesadaran.

Pendeta GKI Bogor Baru ini bisa memahami bahwa hal tersebut butuh waktu. Ia mengaku pernah mengalami hal serupa.

BACA JUGA  Pdt. Hendra dan PR Gereja untuk Kolaborasi (2)

Terus terang saya ini sebenarnya minderan. Latar belakang saya yang dulu kerap mengalami diskriminasi, membuat saya mengalami minority syndrome. Awalnya sangat kikuk kalau harus berurusan dengan pemuka agama lain, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah atau militer,” paparnya sembari mengisahkan sekilas pengalaman masa kecilnya sebagai anak Tionghoa di wilayah pelabuhan Jakarta, lantas tantangan yang dihadapinya saat di GKI Pengadilan Bogor.

Namun di tengah keterbatasan dan ketidaknyamanan, saya justru bisa melihat penyertaan Tuhan. Itu yang membuat saya yakin, mengerjakan pelayanan dengan semangat kebangsaan seperti ini. Meski sampai sekarang karya ini masih harus merintis dalam banyak tantangan,” ia melanjutkan.

Lewat Gerakan Kebangsaan Indonesia, Pdt. Darwin berharap semangat mencintai bangsa itu berkembang dengan luas di tiap warga jemaat. Ini pun dianggapnya relevan dengan kebutuhan masa kini, termasuk dalam upaya melibatkan kaum muda.

Lihat kenapa anak-anak muda kita justru banyak aktif dalam kegiatan sosial di luar. Mereka mungkin melihat gereja tidak banyak berubah, nyaris tidak relevan. Bicara banyak soal mengasihi, namun saat mewujudkannya dalam aksi terbentur banyak prosedur dan birokrasi,” lanjutnya dalam otokritik.

Pdt. Darwin meyakini gereja perlu mengubah diri, bahkan meskipun dianggap akan memberatkan dan semakin membebani karena harus mengerjakan banyak hal serta membuka diri, setidaknya ini adalah hal yang benar untuk dikerjakan. **arms