Bung Hatta menegaskan imaginasi mengenai Indonesia maju adalah Indonesia yang bahagia, Indonesia yang adil dan makmur. Ini merupakan cita-cita luhur bangsa. Pancasila sebagai dasar negara dimaknai dalam upaya mencapai cita-cita itu,” demikian Yudi Latief menjelaskan.

Paparan itu disampaikan Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia) ini dalam seminar kebangsaan yang digelar Universitas Kristen Maranatha pada Jumat (18/10). Seminar yang merupakan rangkaian dari gelaran Peace Festival ke-4 ini memang mencoba menggali kembali nilai-nilai Pancasila dengan relevansinya bagi kehidupan bangsa masa kini.

Menurut Yudi, cita-cita luhur bangsa ini diupayakan pencapaiannya lewat kesatuan dan keseimbangan sila-sila dalam Pancasila. “Dua sila pertama Pancasila menegaskan bahwa dalam membangun relasi, nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan saling seimbang dan seiring-sejalan. Ketuhanan memberikan kepada kita emosi yang positif, dan dengan emosi positif itu kita terlibat dalam relasi kemanusiaan yang menghidupkan.

Keseimbangan itu juga terlihat dalam sila berikutnya yang menegaskan tata kelola masyarakat dan bangsa Indonesia.

Persatuan Indonesia yang termuat dalam sila ketiga Pancasila menandaskan relasi anak-anak Indonesia di tengah kepelbagaian. Menurut pria kelahiran Sukabumi 55 tahun lalu itu, relasi persatuan ini ibarat satu sayap garuda yang akan berfungsi jika ditopang oleh sayap lain. Sayap lain itu adalah keadilan sosial. Tanpa keadilan, persatuan goyah. Demikian pula, tanpa persatuan, keadilan adalah mimpi kosong. Kita harus senantiasa bersatu demi menciptakan keadilan.

Untuk mencapai keseimbangan itu, negara dan pemerintahan mesti dikelola dengan musyawah-mufakat. Demokrasi yang substantif harus terus diperjuangkan, sehingga kehidupan berbangsa menjadi bermakna dan kita terus meningkat dan tumbuh dalam keadilan dan kemakmuran,” lanjut Yudi.

Pemaknaan anatomi Pancasila yang menegaskan keseimbangan seperti itu dinilai sangat relevan untuk segera diwujudkan dalam masyarakat terkini. Gejala perpecahan bangsa, menguatnya intoleransi, tingginya kesenjangan sosial serta belum terwujudnya banyak aspirasi masyarakat adalah hal yang perlu dijawab bersama sebagai suatu bangsa. **arms